Minggu, Januari 11, 2026
25.1 C
Jakarta

Harga Minyak Terjun Bebas, Penurunan Tahunan Terdalam Sejak 2020

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (31/12/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (1/1/2026) WIB. Sepanjang 2025, komoditas ini mencatat penurunan hampir 20%. Ekspektasi kelebihan pasokan menjadi pemicu utama.

Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent turun 48 sen atau melemah 0,8% menjadi US$60,85 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 53 sen atau 0,9% ke posisi US$57,42 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Tahun 2025 diwarnai banyak faktor besar. Perang, kenaikan tarif, hingga peningkatan produksi OPEC+ memberi tekanan ke pasar. Sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela ikut memengaruhi pergerakan harga.

Minyak mentah berjangka Brent merosot sekitar 19% sepanjang 2025. Ini menjadi penurunan tahunan terbesar sejak 2020. Brent juga mencatat pelemahan selama tiga tahun berturut-turut. Ini menjadi rekor penurunan beruntun terpanjang.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat mencatat tren serupa. WTI turun hampir 20% secara tahunan. Tekanan jual masih terasa hingga akhir perdagangan tahun ini.

Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, memperkirakan tekanan harga masih berlanjut. Ia memprediksi Brent turun ke level US$ 55 per barel pada kuartal pertama 2026. Harga diperkirakan pulih ke kisaran US$ 60 per barel pada sisa tahun tersebut. Pemulihan sejalan dengan normalisasi pasokan dan pertumbuhan permintaan yang datar.

“Alasan mengapa kami lebih bearish daripada pasar dalam waktu dekat adalah karena kami berpikir bahwa produsen serpih AS mampu melakukan lindung nilai pada tingkat yang tinggi. Jadi pasokan dari produsen serpih akan lebih konsisten dan tidak sensitif terhadap pergerakan harga,” ujar Ying.

Data energi Amerika Serikat menunjukkan sinyal beragam. Stok minyak mentah turun pada pekan lalu. Namun, persediaan bensin dan sulingan justru naik di atas perkiraan. Data ini dirilis Administrasi Informasi Energi AS (EIA).

Mitra Again Capital Markets, John Kilduff, menilai laporan tersebut memberi sinyal campuran.

“Itu adalah laporan yang cukup mendukung tentang penarikan minyak mentah, tetapi bagian dalam laporan itu tidak begitu bagus dan mungkin akan menjadi Januari dan Februari yang berat dengan liburan yang sudah berlalu,” kata Kilduff.

Persediaan minyak mentah AS turun 1,9 juta barel menjadi 422,9 juta barel. Angka ini lebih besar dari perkiraan analis. Di sisi lain, stok bensin naik 5,8 juta barel. Stok sulingan, termasuk solar dan minyak pemanas, meningkat 5 juta barel.

Pasar minyak sebenarnya mengawali 2025 dengan tren positif. Sanksi terhadap Rusia sempat mengganggu pasokan. Konflik Iran-Israel dan krisis Yaman ikut mendorong harga. Namun, tekanan muncul setelah OPEC+ mempercepat peningkatan produksi. Kekhawatiran dampak tarif Amerika Serikat terhadap permintaan global ikut menekan harga.

OPEC+ memutuskan menunda kenaikan produksi minyak pada kuartal pertama 2026. Kelompok ini telah melepas sekitar 2,9 juta barel per hari ke pasar sejak April. Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 4 Januari.

Mayoritas analis memperkirakan pasokan global akan melampaui permintaan pada 2026. Kelebihan pasokan diperkirakan berada di kisaran 2 juta hingga 3,84 juta barel per hari. Kondisi ini menempatkan OPEC+ dalam posisi sulit.

Ahli strategi minyak global Morgan Stanley, Martijn Rats, menilai harga perlu turun lebih dalam untuk memicu respons OPEC+.

“Jika harga benar-benar jatuh secara substansial, saya membayangkan Anda akan melihat beberapa pemotongan (dari OPEC+). Tapi mungkin perlu jatuh lebih jauh lagi dari sini – mungkin di kisaran US$50-an rendah,” jelas Rats.

Ia menambahkan, “Jika harga hari ini bertahan, setelah jeda di Q1, mereka mungkin akan terus membatalkan pemotongan ini.”

Di tengah tekanan fundamental, faktor geopolitik tetap menjadi perhatian. Direktur pelaksana konsultan JTD Energy, John Driscoll, menilai peran Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak bisa diabaikan.

“Semua orang mengatakan akan melemah hingga 2026 dan bahkan seterusnya. Tapi saya tidak akan mengabaikan geopolitik, dan faktor Trump akan ikut bermain karena dia ingin terlibat dalam segala hal,” pungkas Driscoll.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Emas Masih ‘Anteng’ di Level USD 4.452, Analis Ramal Bisa Tembus USD 5.000

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak stabil pada...

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Pasokan Global Jadi Sorotan

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat tajam...

Aksi Ambil Untung Tekan Harga Emas, Logam Mulia Lainnya Ikut Tumbang

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir melemah pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru