Selasa, Januari 20, 2026
27.1 C
Jakarta

Pasar Saham Asia-Pasifik Bergerak Variatif, China Tahan Suku Bunga Acuan

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Senin sore (21/4/2025) waktu setempat. Investor masih mencermati langkah bank sentral China yang memutuskan untuk menahan suku bunga pinjaman acuannya di tengah tekanan nilai tukar yuan.

Mengutip CNBC International, Bank Rakyat China (PBOC) tetap mempertahankan loan prime rate (LPR) untuk tenor 1 tahun di level 3,10% dan tenor 5 tahun di 3,60%. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Indeks CSI 300 di China naik 0,33% dan ditutup pada level 3.784,88. Sementara indeks Shanghai Composite menguat 0,45% ke posisi 3.291,43.

Pasar saham Jepang justru melemah. Indeks Nikkei 225 turun 1,30% ke level 34.279,92. Indeks Topix juga ikut turun 1,18% dan berakhir di 2.528,93.

Di Korea Selatan, indeks Kospi naik tipis 0,20% ke level 2.488,42. Namun indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil justru turun 0,32% dan ditutup di 715,45.

Pasar India bergerak positif. Indeks Nifty 50 melonjak 1,32%, sedangkan BSE Sensex naik 1,35% pada pukul 13.25 waktu setempat.

Di sisi lain, pasar saham Australia dan Hong Kong tutup karena libur Paskah. Indeks S&P/ASX 200 di Australia ditutup flat di 7.819,10. Begitu juga dengan indeks Hang Seng di Hong Kong yang tidak berubah di level 21.395,14.

Indeks CNBC 100 Asia ditutup melemah tipis 0,05% ke posisi 9.784,11.

Pelaku pasar juga masih mencermati dinamika hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Ketegangan kedua negara membuat nilai tukar yuan berada di bawah tekanan dan memicu kekhawatiran baru terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik kepada The Fed. Ia meminta agar bank sentral memangkas suku bunga dan menyebut bahwa pencopotan Jerome Powell dari kursi ketua Fed “tidak bisa datang lebih cepat lagi”.

Komentar Trump muncul setelah Powell mengingatkan bahwa ketegangan dagang yang terus berlangsung bisa menghambat upaya The Fed dalam mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ambisi Trump Beli Greenland Bikin Bursa Eropa Kebakaran, Saham Mewah dan Otomotif Rontok

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa kompak memerah pada...

Bursa Asia Melemah, Investor Waspadai Isu Trump dan Data China

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

Trump Ancam Tarif 25% ke Eropa, Bursa Saham Dunia Siap-Siap Terguncang

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Pasar saham global bersiap menghadapi guncangan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru