Rabu, Januari 21, 2026
25.6 C
Jakarta

Wall Street Pecahkan Rekor Baru! S&P 500 Tembus 6.700 untuk Pertama Kalinya, Pasar Yakin Shutdown Tak Lama

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Wall Street kompak ditutup menguat pada perdagangan Rabu (1/10/2025) waktu setempat atau Kamis pagi (2/10/2025) WIB. Indeks S&P 500 menembus level penutupan tertinggi sepanjang sejarah meski pemerintah AS resmi mengalami shutdown.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York terkerek 43,21 poin atau 0,09% ke level 46.441,1. Indeks S&P 500 (SPX) menguat 22,74 poin atau 0,34% ke posisi 6.711,2. Sepanjang sesi, indeks ini sempat menyentuh rekor intraday terbaru setelah sebelumnya turun hingga 0,5%.

Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, naik 95,15 poin atau 0,42% menjadi 22.755,15.

Penguatan S&P 500 dipimpin sektor kesehatan. Saham Regeneron Pharmaceuticals dan Moderna mencatatkan lonjakan signifikan. Kenaikan ini menambah catatan positif setelah indeks acuan pasar tersebut sebelumnya sudah menguat lebih dari 3,5% sepanjang bulan lalu.

Shutdown terjadi setelah Senat AS yang dikuasai Partai Republik gagal meloloskan rancangan undang-undang sementara untuk pendanaan pemerintah. Demokrat berupaya memanfaatkan rancangan ini untuk memperpanjang subsidi pajak kesehatan bagi jutaan warga Amerika.

“Pasar terlihat tidak khawatir. Pembeli yang menunggu penurunan harus bersabar. Momentum tetap positif,” ujar Louis Navellier, pendiri Navellier & Associates.

Meski pasar masih tenang, shutdown kali ini dianggap lebih berisiko. Investor tetap waspada terhadap melambatnya pasar tenaga kerja, ancaman inflasi, hingga valuasi saham yang masih tinggi.

Kantor Anggaran Kongres memperkirakan sekitar 750.000 pegawai federal terpaksa cuti tanpa dibayar. Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan melakukan pemecatan massal permanen jika kondisi ini terus berlanjut.

Wakil Presiden JD Vance menyebut pemerintah mungkin harus merumahkan sebagian pegawai bila shutdown berlarut. “Kami memang harus memberhentikan beberapa orang jika shutdown terus berlangsung. Namun belum ada keputusan final. Saya juga tidak percaya shutdown ini akan berlangsung lama. Ada tanda-tanda Demokrat moderat mulai goyah,” kata Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Penutupan sebagian besar aktivitas pemerintah juga berdampak pada ketersediaan data ekonomi penting. Laporan tenaga kerja nonfarm payrolls September dipastikan tidak akan dirilis pekan ini.

Sementara itu, data dari ADP menunjukkan jumlah tenaga kerja sektor swasta turun 32.000 pada bulan lalu. Angka ini jauh di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 45.000. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak Maret 2023.

“The backdrop to this shutdown is much different than the 2018 shutdown, which was the longest on record,” ujar Jay Woods, Chief Market Strategist Freedom Capital Markets.

Minimnya data membuat The Federal Reserve diperkirakan tetap pada rencana memangkas suku bunga pada akhir Oktober. Investor juga menilai kemungkinan pemangkasan lanjutan bisa terjadi pada Desember.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Greenland Jadi Rebutan, Parlemen Eropa Bakal Bekukan Kesepakatan Tarif AS-Eropa

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Parlemen Eropa berencana menunda persetujuan kesepakatan...

Trump Ancam Tarif NATO Demi Greenland, Wall Street Alami Hari Terburuk Sejak Oktober

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Ancaman Perang Dagang Trump Picu Aksi Jual, Bursa Saham Eropa Berakhir Memerah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru