STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menyampaikan perkembangan terbaru terkait tambang Poh Group di Mongolia yang dimiliki melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR). Aset ini merupakan bagian dari portofolio aset pertambangan Poh Group yang direncanakan untuk diinjeksi ke dalam NINE. Hal itu dikemukakan Nuzwan Gufron, Direktur Utama NINE.
Menurut Nuzwan, perkembangan ini berpotensi memberikan dampak material terhadap rencana investasi pertambangan Poh Group di Indonesia di masa mendatang, baik melalui skema Kerja Sama Operasi (Joint Operation/JO) maupun kepemilikan langsung.
“PGGR merupakan entitas yang berafiliasi dengan Poh Group melalui pemegang saham pengendali yang sama, yaitu Bapak Poh Kay Ping, serta merupakan pemilik 100% (seratus persen) atas dua konsesi pertambangan di Mongolia,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (06/01/2026).
Aset-aset pertambangan tersebut direncanakan untuk diinjeksi ke dalam NINE. NINE telah menandatangani suatu opsi untuk membeli aset-aset pertambangan di Mongolia yang dimiliki oleh PGGR.
Pelaksanaan opsi tersebut tunduk pada terpenuhinya 5 (lima) persyaratan. Pertama, persetujuan pemegang saham. Kedua, persetujuan regulator yang berwenang, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Ketiga, penilaian independen oleh dua penilai yang disetujui, masing-masing satu penilai dari Indonesia dan satu penilai dari Australia.
Keempat, kepatuhan terhadap seluruh peraturan perundang-undangan, peraturan, ketentuan pencatatan, serta persyaratan regulator lainnya yang relevan dengan transaksi. Kelima, penandatanganan dokumen transaksi yang bersifat definitif.
PGGR telah menandatangani suatu Framework Agreement for Mining Cooperation dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. Entitas EPC+F tersebut merupakan perusahaan berskala besar yang dimiliki secara privat di Inner Mongolia, Tiongkok, didirikan sejak tahun 1998, dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang dan total aset melebihi US$500 juta.
Perusahaan tersebut secara legal memiliki dan mengoperasikan tambang terbuka (open-pit mines) dan tambang bawah tanah (underground mines), memiliki pengalaman matang dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi, serta telah menyelesaikan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan negara lainnya, sehingga memiliki dasar yang kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara.
Entitas EPC+F tersebut menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan PGGR (termasuk pihak-pihak terafiliasi seperti Poh Group (PG)/NINE) dalam eksploitasi tambang yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, atau untuk melaksanakan kerja sama operasi (JO) dengan pihak ketiga di Indonesia.
Kerja sama tersebut dilaksanakan dengan ketentuan bahwa setiap proyek tambang dinilai layak secara ekonomi serta telah memperoleh persetujuan manajemen dan pemegang saham dari seluruh pihak terkait. Entitas EPC+F tersebut memiliki niat serta kapasitas untuk melakukan investasi lebih dari US$100 juta guna mengimplementasikan operasi pertambangan bagi proyek-proyek PG/NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan yang diproyeksikan melebihi 20 juta ton.
Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta diperolehnya persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok yang berwenang di wilayah tempat entitas tersebut berdomisili untuk setiap proyek kerja sama yang spesifik.
Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh. PGGR, bersama dengan pihak-pihak terafiliasinya PG/PT Techno9 Indonesia Tbk, terus mendorong kerja sama pertambangan lintas negara.
Saat ini, PG/NINE sedang melakukan negosiasi lanjutan secara intensif terkait kerja sama operasi dengan beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan yang sah, yang mencakup sumber daya seperti emas, batubara, timah, dan bauksit, dengan tujuan memperluas batas sumber daya dalam kerja sama antara para pihak.
Adapun implikasi bagi pemegang saham NINE adalah berpotensi memiliki dampak material bagi para pemegang saham NINE, khususnya apabila opsi pembelian aset pertambangan PGGR di Mongolia dilaksanakan, serta terhadap keterlibatan NINE di masa depan dalam proyekproyek pertambangan di Indonesia, karena membuka jalur monetisasi aset yang lebih terstruktur.
NINE akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun di kawasan regional guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
