Minggu, Januari 11, 2026
25.8 C
Jakarta

OJK Pasang Target Optimistis 2026, UMKM dan Pasar Modal Jadi Fokus Utama

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menatap tahun 2026 dengan optimisme yang hati-hati. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan pandangannya mengenai prospek sektor jasa keuangan di tahun ini. Meski menghadapi tantangan global dan domestik, OJK menargetkan kinerja yang lebih baik, terutama pada penyaluran kredit UMKM dan penguatan pasar modal.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025, Mahendra mengungkapkan bahwa kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan sepanjang 2025 masih sesuai dengan prakiraan awal. Namun, ada satu catatan penting yang menjadi perhatian regulator. Penyaluran kredit dan pembiayaan untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih jauh di bawah target.

“Kami berharap tentu di tahun 2026 ini dapat dilakukan peningkatan yang lebih baik terhadap kinerja kredit dan pembiayaan tadi, khususnya juga bagi UMKM,” ujar Mahendra di Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Peningkatan kinerja kredit UMKM menjadi kunci agar target keseluruhan sektor jasa keuangan tahun ini bisa tercapai. OJK menyadari bahwa ada tantangan eksternal yang tidak bisa diabaikan. Perkembangan ekonomi global yang dinamis serta dampak bencana alam di tiga provinsi di Indonesia menjadi faktor yang terus dipantau. OJK berkomitmen untuk merespons hal tersebut dengan kebijakan yang tepat guna menjaga stabilitas dan pertumbuhan.

“Pengaruh dari perkembangan global maupun juga dampak dari bencana di tiga provinsi kita, akan menjadi perhatian penting bagi kami untuk juga melihat bagaimana merespon dengan baik hal-hal tadi untuk tetap menjaga target pertumbuhan dan kinerja di 2026 ini bisa tercapai,” tambahnya.

Pasar Modal Tunjukkan Tren Positif

Selain sektor perbankan, OJK juga menyoroti kinerja pasar modal. Mahendra mencatat adanya perbaikan signifikan pada paruh kedua tahun 2025. Meskipun sempat tertekan pada semester pertama, pasar modal Indonesia berhasil bangkit dan menutup tahun dengan kinerja yang menggembirakan.

“Kami melihat bahwa hal ini memang merupakan suatu perkembangan yang baik dan tentu kita berharap momentum yang baik ini bisa dijaga terus ke depan,” kata Mahendra.

Untuk menjaga momentum tersebut, OJK menyiapkan serangkaian strategi. Fokus utamanya adalah pada perbaikan integritas pasar dan penegakan aturan. Selain itu, upaya pendalaman pasar juga akan terus digenjot.

“Berbagai kebijakan dari sisi perbaikan dan peningkatan integritas dan enforcement dari peraturan yang berlaku harus semakin tegakkan,” tegasnya.

OJK juga berkomitmen melanjutkan tiga area prioritas reformasi yang telah dicanangkan sejak 2023. Reformasi ini dinilai krusial untuk memperkuat fondasi sektor jasa keuangan nasional dalam menghadapi ketidakpastian global.

Waspadai Dinamika Ekonomi Global

Dalam kesempatan yang sama, Mahendra juga memaparkan kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Lembaga multilateral memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 akan melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi. Risiko fiskal di negara-negara maju menjadi salah satu pemicunya.

Kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan. PDB AS pada kuartal ketiga 2025 tumbuh 4,3%, melampaui ekspektasi pasar. Inflasi di Negeri Paman Sam juga mulai melandai. Sebaliknya, Tiongkok masih bergulat dengan perlambatan ekonomi dan lemahnya konsumsi rumah tangga.

Perbedaan arah kebijakan moneter bank sentral dunia juga menjadi sorotan. The Fed dan Bank of England mulai memangkas suku bunga acuan mereka. Sementara itu, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir demi meredam inflasi.

Divergensi kebijakan ini memengaruhi dinamika pasar keuangan global. Pasar saham merespons positif pemangkasan suku bunga The Fed, meski ada kekhawatiran soal bubble saham teknologi. Di sisi lain, kenaikan bunga di Jepang menekan pasar obligasi global akibat berakhirnya era carry trade.

Meskipun tantangan global masih ada, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan domestik tetap terjaga. Rapat Dewan Komisioner pada 24 Desember lalu menyimpulkan bahwa kondisi stabilitas sistem keuangan Indonesia masih solid dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

- Advertisement -

Artikel Terkait

IHSG Diprediksi Menguat, Bahana Sekuritas Rekomendasikan ‘Beli’ NICL, BUMI, DEWA hingga RATU!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa...

Investor Telkom (TLKM) Melejit di Akhir 2025, Danantara Genggam Kendali 52,09%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)...

Komposisi Pemegang Saham BRMS Akhir 2025: Investor Sugiman Halim Genggam 7,45%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru