STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas pendanaan melalui surat utang atau obligasi tetap semarak pada awal tahun 2026. Sejumlah perusahaan telah mengantre untuk menerbitkan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan data terbaru pencatatan bursa. Hingga pertengahan Januari 2026, total dana yang dihimpun dari penerbitan obligasi sudah mencapai triliunan rupiah.
“Hingga saat ini, telah diterbitkan 9 emisi dari 7 penerbit EBUS dengan dana yang dihimpun sebesar Rp5,85 triliun,” ujarnya di Jakarta, dikutip Jumat (16/1/2026).
Nyoman menambahkan, antusiasme penerbitan surat utang ke depan masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari daftar antrean atau pipeline yang masuk ke meja bursa. Terdapat 10 emisi yang siap meluncur dari 5 penerbit EBUS.
“Sampai dengan 15 Januari 2026 terdapat 10 emisi dari 5 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” kata Nyoman.
Berdasarkan klasifikasi sektornya, perusahaan dari sektor energi mendominasi jumlah penerbit dalam antrean ini. Tercatat ada 3 perusahaan dari sektor energi yang bersiap menerbitkan obligasi.
Selain energi, sektor lain yang turut meramaikan pipeline adalah sektor perindustrian (industrials) dan infrastruktur. Masing-masing sektor ini menyumbang 1 perusahaan.
Sementara itu, jika menilik data persentase komposisi pipeline obligasi, sektor energy terlihat mendominasi porsi sebesar 50%. Posisi selanjutnya diisi oleh sektor industrials sebesar 30% dan infrastruktur sebesar 20%.
Untuk sektor lainnya seperti bahan baku (basic materials), keuangan (financials), kesehatan, properti, teknologi, hingga transportasi, tercatat belum ada perusahaan yang masuk dalam pipeline obligasi pada periode ini.
