STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (19/1/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (20/1/2026) WIB. Sentimen ini muncul setelah meredanya aksi protes besar di Iran. Kondisi tersebut memperkecil peluang serangan militer Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya dikhawatirkan mengganggu pasokan energi global.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent terpantau naik 6 sen atau 0,09% ke level 64,19 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ntuk pengiriman Februari naik 9 sen atau 0,15% ke posisi 59,53 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Meredanya kerusuhan di Iran menjadi faktor utama penopang harga. Tindakan keras pemerintah setempat terhadap pengunjuk rasa dilaporkan telah meredam gejolak sipil. Pejabat setempat menyebut sekitar 5.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut.
Presiden AS Donald Trump terlihat mulai melunakkan ancaman intervensinya. Melalui media sosial, Trump menyatakan Iran telah membatalkan rencana eksekusi massal terhadap pengunjuk rasa. Padahal, pihak Iran sendiri belum pernah mengumumkan rencana semacam itu.
Sikap Trump ini menurunkan risiko campur tangan militer AS. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC). Gangguan di wilayah ini sangat sensitif bagi kestabilan harga energi dunia.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, memberikan pandangannya dalam sebuah catatan. Ia menilai pasar mulai menyesuaikan diri dengan kondisi terbaru di Timur Tengah.
“Penarikan tersebut menyusul pelepasan cepat ‘premi Iran’ yang telah mendorong harga ke level tertinggi dalam 12 minggu, dipicu oleh tanda-tanda meredanya tindakan keras Iran terhadap pengunjuk rasa,” ujar Tony Sycamore.
Ia menambahkan tekanan pasokan juga dipengaruhi oleh peningkatan stok minyak mentah AS. Data Administrasi Informasi Energi (EIA) mencatat stok minyak mentah naik 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Januari. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 1,7 juta barel.
Di sisi lain, pasar terus memantau perkembangan industri minyak di Venezuela. AS dikabarkan sedang mempercepat proses pemberian lisensi produksi bagi perusahaan energi Chevron. Hal ini dilakukan setelah Donald Trump menyatakan ketertarikannya untuk mengelola industri minyak di sana.
Meskipun begitu, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin dengan prospek peningkatan produksi dari Venezuela. Pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, menilai fokus pasar sedang terbagi.
“Venezuela dan Ukraina tetap dikesampingkan. Harapkan pergerakan terbatas untuk sisa hari ini, dengan pasar AS ditutup,” tutur Vandana Hari.
Pasar AS sendiri ditutup pada hari Senin untuk memperingati Martin Luther King Jr. Day. Di saat yang sama, data pemerintah China menunjukkan pertumbuhan industri kilang sebesar 4,1% pada 2025. Produksi minyak mentah Negeri Tirai Bambu itu juga tumbuh 1,5% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
