STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street melonjak tajam pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (22/1/2026) WIB. Investor merespons positif langkah Presiden Donald Trump membatalkan rencana tarif baru terhadap Eropa terkait isu Greenland.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York terbang 588,64 poin atau 1,21% ke level 49.007,23. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 1,16% menjadi 6.875,62. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 1,18% ke posisi 23.224,82.
Kenaikan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan kerangka kesepakatan terkait Greenland telah tercapai. Sebelumnya, dalam pidato di World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump memberikan penjelasan detail. “Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan, faktanya, seluruh Wilayah Arktik,” tulisnya.
Trump juga memastikan pembatalan tarif yang semula direncanakan. “Berdasarkan kesepahaman ini, saya tidak akan memberlakukan Tarif yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari,” tambah sang presiden.
Kepada CNBC, Trump menyebut pemerintahannya sudah memiliki konsep kesepakatan dengan Greenland. Pernyataan ini langsung membalikkan sentimen negatif pasar yang sempat memicu aksi jual pada hari sebelumnya.
Meski hari ini menghijau, ketiga indeks utama masih mencatatkan rapor merah sepanjang pekan ini. Dow Jones turun 0,6% dalam sepekan. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing masih terkoreksi sekitar 1%.
Sektor teknologi memimpin pemulihan pasar. Saham Nvidia dan AMD kembali diburu investor setelah sempat tertekan di awal pekan. Saham perbankan seperti Citigroup dan Capital One juga naik sekitar 1%.
Kenaikan saham bank terjadi setelah Trump meminta Kongres membatasi suku bunga kartu kredit sebesar 10%. Meski demikian, pelaku pasar menilai rencana tersebut sulit terwujud karena kurangnya dukungan dari para anggota legislatif.
Jed Ellerbroek, Manajer Portofolio di Argent Capital Management, menilai pasar mulai terbiasa dengan gaya komunikasi Trump. “Presiden Trump sangat tidak terduga dan dia berubah arah dengan sangat cepat. Pasar saham tidak lagi berasumsi pengumumannya akan ditegakkan,” ujarnya kepada CNBC.
Menurut Ellerbroek, reaksi pasar seharusnya bisa lebih buruk jika ancaman Trump dianggap permanen. “Pertempuran dengan Eropa terkait Greenland akan menjatuhkan pasar saham jauh lebih banyak daripada 2% kemarin jika investor benar-benar percaya ini adalah keretakan geopolitik besar,” jelasnya.
Dari sisi makro, harga obligasi Treasury 10 tahun naik sehingga imbal hasilnya (yield) menurun. Indeks dolar AS juga tercatat menguat terhadap mata uang utama lainnya.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan pemerintah tidak ambil pusing dengan aksi jual tajam yang terjadi Selasa lalu. Di Davos, ia mengatakan pemerintahan Trump tidak khawatir dengan fluktuasi pasar tersebut.
Di Washington, Mahkamah Agung sedang meninjau wewenang presiden untuk memecat Lisa Cook sebagai Gubernur Federal Reserve. Hakim Agung Brett Kavanaugh menyatakan keraguannya atas langkah tersebut.
Kavanaugh menilai independensi bank sentral bisa terancam. “Argumen presiden dapat memecat Cook tanpa tinjauan yudisial akan memperlemah, jika tidak menghancurkan, independensi Federal Reserve,” tegas Kavanaugh dalam persidangan.
