back to top
Kamis, Januari 22, 2026
24.3 C
Jakarta

Merger dengan Eka Mas Republik, Saham Free Float Moratelindo (MORA) Terjaga di Level 16,74%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo memproyeksikan persentase kepemilikan saham publik atau free float tetap terjaga usai merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR). Perseroan memperkirakan jumlah saham publik mencapai 16,746071% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor.

Angka ini setara dengan 8.000.300.010 lembar saham. Berdasarkan data per 31 Desember 2025, jumlah pemegang saham MORA tercatat sebanyak 3.879 pihak. Manajemen optimis ketentuan minimal 300 pemegang saham tetap terpenuhi setelah penggabungan usaha ini selesai.

“Persentase pemegang saham publik Perseroan setelah Penggabungan Usaha adalah sebesar 16,746071% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor pada Perusahaan hasil Penggabungan,” tulis manajemen MORA dalam dokumen keterbukaan informasi, dikutip Kamis (22/1/2026).

Jika aksi korporasi ini menyebabkan ketentuan free float tidak terpenuhi, MORA telah menyiapkan langkah antisipasi. Perseroan akan melakukan langkah-langkah sesuai peraturan berlaku. Hal ini termasuk kemungkinan pembelian kembali saham publik bagi pemegang saham yang tidak setuju atas merger.

Aksi penggabungan ini membawa sinergi besar bagi kedua perusahaan. MORA bakal memperluas jangkauan infrastruktur jaringan fiber-to-the-home (FTTH) dan segmen enterprise. Perseroan bisa memasarkan produk enterprise langsung kepada pelanggan di jaringan FTTH milik EMR.

Di sisi lain, EMR akan mendapatkan akses langsung ke infrastruktur backbone MORA yang berkapasitas besar. Hal ini dipercaya mampu meningkatkan stabilitas jaringan dan menurunkan latensi layanan bagi pelanggan. Sinergi finansial juga tercipta melalui optimalisasi belanja modal atau capital expenditure (Capex).

“MORA akan menghasilkan sinergi finansial melalui optimalisasi belanja modal dan pembangunan infrastruktur, khususnya FTTH, dikarenakan antara lainnya skala bisnis yang menjadi lebih besar,” sebut manajemen.

EMR memiliki keunggulan kompetitif pada infrastruktur last mile. Perusahaan ini telah mencapai jumlah homes passed yang kompetitif. Hingga September 2025, EMR memiliki total panjang kabel serat optik 58.455 km dengan 8.791.299 homepass dan 1.527.337 pelanggan ritel.

Meskipun bergabung, MORA akan tetap mempertahankan merek dagang atau brand milik EMR. Strategi pemanfaatan merek ini akan disesuaikan dengan optimalisasi operasional pasca-integrasi. MORA akan menjadi entitas yang menerima penggabungan (surviving entity).

Terkait aspek sumber daya manusia, manajemen memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK). MORA dan EMR berencana mempertahankan seluruh karyawan yang ada. Saat ini, komposisi tenaga kerja dinilai sudah ideal untuk mendukung operasional perusahaan.

Rencana merger ini juga tidak berdampak negatif terhadap Sukuk Ijarah yang telah diterbitkan MORA. Seluruh kewajiban pembayaran sisa imbalan dan cicilan imbalan ijarah akan tetap terpenuhi. Laporan proforma menunjukkan perusahaan hasil merger memiliki aset dan arus kas yang memadai.

Hingga 30 September 2025, total liabilitas EMR tercatat sebesar Rp12.878.241 (dalam jutaan) atau sekitar Rp12,87 triliun. Liabilitas jangka pendek mendominasi sebesar Rp3,38 triliun. Sementara liabilitas jangka panjang mencapai Rp9,49 triliun.

Proses penggabungan ini ditargetkan mendapat pernyataan efektif dari OJK pada 13 Maret 2026. Persetujuan RUPSLB dari kedua perusahaan dijadwalkan pada 25 Maret 2026. Pencatatan saham tambahan di Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 23 April 2026.

MORA akan menerbitkan 24.127.524.041 saham tambahan setelah merger efektif. Jumlah ini mewakili 50,50% dari total saham setelah penggabungan. Perseroan juga tengah memproses persetujuan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta notifikasi ke KPPU.

Beberapa kreditur utama seperti Bank Mandiri, Indonesia Infrastructure Finance, Cisco, BSI, dan BCA juga sedang meninjau rencana ini. Manajemen berkeyakinan para kreditur akan memberikan persetujuan atas rencana penggabungan usaha tersebut. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memajukan agenda digital nasional di Indonesia.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Mulai Hari Ini, United Tractors (UNTR) Buyback Saham di BEI, Siapkan Dana Rp2 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Mulai hari ini, Kamis 22 Januari 2026,...

Ambil Keuntungan Investasi, Phillip Securities Lepas 0,07% Saham STRK

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Phillip Securities Pte, Ltd, salah satu pemegang...

IASC Kembalikan Rp161 Miliar Dana Korban Penipuan Digital

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) berhasil mengembalikan Rp161...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru