back to top
Selasa, Januari 27, 2026
28.1 C
Jakarta

Kinerja Kinclong, Saham BBCA Justru Melemah, Ini Penjelasan Bos BCA

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru melemah di tengah kabar kenaikan laba bersih perusahaan. Padahal, bank swasta terbesar di Indonesia ini baru saja merilis kinerja keuangan yang positif untuk tahun buku 2025.

BCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun sepanjang 2025. Angka ini tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/YoY). Kenaikan laba ini dipicu oleh total pendapatan operasional yang meningkat 5,4% YoY.

Selain itu, rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) BCA juga terpantau membaik. Pendapatan bunga bersih atau net interest income BCA tumbuh 4,1% YoY. Sementara itu, pendapatan selain bunga melonjak sebesar 16% YoY.

Penyaluran kredit BCA sendiri tumbuh positif 7,7% YoY menjadi Rp993 triliun hingga akhir Desember 2025. Rata-rata pertumbuhan kredit perseroan bahkan mencapai 10,8% selama setahun penuh. Kredit usaha naik 9,9% YoY mencapai Rp756,5 triliun.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan 10,2% YoY menjadi Rp1.249 triliun. Dana murah atau CASA mendominasi dengan kenaikan 13,1% YoY ke posisi Rp1,045 triliun. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di angka 1,7%.

Namun, kinerja mengilap tersebut tidak sejalan dengan pergerakan sahamnya di lantai bursa. Saham BBCA ditutup melemah pada perdagangan Selasa, (27/1/2026). Harga saham berakhir di level Rp7,500 per saham.

Nilai tersebut turun Rp150 atau merosot 1,96% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada pembukaan pagi tadi, BBCA sempat berada di posisi Rp7,575 per saham. Harga tertinggi hari ini menyentuh Rp7,625 per saham, sedangkan harga terendah di level Rp7,500 per saham.

Kapitalisasi pasar BBCA saat ini tercatat sebesar Rp915,32 triliun. Rasio price to earnings (P/E) berada di level 16,17 kali. Dalam 52 minggu terakhir, harga tertinggi saham BBCA pernah mencapai Rp9,800 per saham.

Menanggapi pelemahan harga saham ini, Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong memberikan penjelasannya. Ia menyebut komposisi pemegang saham menjadi salah satu faktor penentu pergerakan harga di pasar.

“Yang mengenai saham saya coba jawab. Pemegang saham BCA saat ini 70 sampai 80% itu dimiliki oleh investor asing. Nah, yang di dalam kontrol kita manajemen BCA adalah memastikan tentu performance kita bisa sebaik-baiknya, terjaga sebaik-baiknya. Tapi kalau harga saham memang normal kalau saham itu naik turun. Karena 70 sampai 80% itu investor asing, yang porsi free float ya. Ini memang tergantung situasi di global dan situasi investor juga. Jadi memang pertanyaannya ini agak agak sulit ya untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” ujar Hendra dalam paparan kinerja secara daring di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Hingga saat ini, BBCA tetap rutin membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya. Imbal hasil atau yield dividen tercatat sebesar 4,07%. Adapun jumlah dividen kuartalan perusahaan berada di angka Rp76,31 per saham.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Sempat Disuspensi karena Lonjakan Harga, Dua Saham Ini Bisa Diperdagangkan Lagi Besok 

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut...

Kurangi Porsi Kepemilikan, Investor Asal Singapura Divestasi 0,17% Saham LUCK

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Serial System International, Pte, Ltd, investor sekaligus...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru