STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) terus mencatatkan perbaikan signifikan pada triwulan IV 2025. Instrumen investasi milik pemerintah ini semakin diminati oleh para investor.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perkembangan positif ini. Yield SBN tenor 10 tahun kini menurun ke level 6,01%. Angka ini menyusut drastis dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang masih bertengger di atas 7%.
Purbaya menjelaskan hal tersebut dalam keterangan pers hasil rapat berkala KKSK I di Jakarta, Selasa (27/1/2026). Jika dibandingkan akhir triwulan III 2025, yield ini turun 35 bps dari posisi 6,36%. Secara kumulatif, terjadi penurunan sebesar 100 bps dari level 7,01% pada akhir 2024.
Kondisi ini menurut Purbaya sangat positif bagi kredibilitas keuangan negara. Hal tersebut “mencerminkan kepercayaan investor terhadap instrumen Pemerintah dengan tata kelola fiskal yang prudent,” ujarnya.
Sinyal positif pasar SBN ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia (BI). Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan pihaknya terus menjalankan kebijakan moneter ekspansif. Salah satunya melalui pembelian SBN dari pasar sekunder.
Sepanjang tahun 2025, BI telah membeli SBN dengan total mencapai Rp332,1 triliun. Angka ini mencakup pembelian di pasar sekunder dan program debt switching dengan Pemerintah sebesar Rp246,6 triliun.
Aksi borong SBN ini masih berlanjut hingga awal tahun 2026. Hingga 23 Januari 2026, BI tercatat sudah membeli SBN sebesar Rp23,7 triliun.
Perry menekankan langkah ini dilakukan dengan penuh perhitungan. “Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter,” jelas Perry.
Langkah ini merupakan bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal Pemerintah. Kerja sama tersebut bertujuan menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
