back to top

Bursa RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, Bos BEI Minta Investor Jangan Panik

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar modal Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dari penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga tersebut mengancam bakal menurunkan peringkat Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Jika ini terjadi, posisi Indonesia akan sejajar dengan Vietnam dan Filipina.

Kabar tersebut memicu aksi jual panik atau panic selling di lantai bursa hari ini. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, memberikan penjelasan terkait situasi ini dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Iman menjelaskan, pangkal persoalannya terletak pada permintaan transparansi data free float (saham publik) yang diminta MSCI. Sejak akhir tahun lalu, MSCI melakukan konsultasi mengenai proposal kategori korporasi dan lainnya dalam perhitungan free float.

Selama ini, data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) masih mencampur kepemilikan saham di bawah 5% dan di atas 5%. MSCI menginginkan rincian yang lebih komprehensif per segmen.

“Tetapi memang yang jadi concern adalah kalau data yang mereka minta, jadi mereka artinya data yang kami usulkan mereka merasa tidak cukup, kita sudah sampaikan. Kalau data yang mereka harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan transparansi itu ya—mereka sampaikan transparansi—dipenuhi sampai dengan bulan Mei, mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi frontier market. Artinya kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina, sementara kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia ya,” ujar Iman.

Saat ini, MSCI memutuskan untuk membekukan (freeze) proses rebalancing indeks pada Februari 2026. Artinya, tidak ada penambahan atau pengurangan jumlah emiten asal Indonesia dalam konstituen indeks MSCI untuk sementara waktu. Pangsa pasar Indonesia di MSCI juga tetap bertahan di level 1.5%.

Iman menegaskan, BEI bersama OJK dan KSEI terus berdiskusi intensif dengan MSCI. Pihak otoritas bursa berkomitmen memenuhi standar transparansi yang diminta. Langkah ini dinilai bakal membawa dampak positif bagi industri pasar modal nasional dalam jangka panjang.

“Kami juga berterima kasih justru bahwa dengan adanya surat tersebut menjadikan apa, ada pihak yang meminta transparansi atas data kita yang free float di bawah 5%. Nah, ini tadi hasil kami diskusi juga kita sedang mempersiapkan, kita sedang melihat bagaimana kita bisa memenuhi apa yang di-require, apa yang dibutuhkan oleh MSCI. Sehingga tadi kita tidak harapkan bahwa investor-investor kita yang ada sekarang panik,” kata Iman.

Pihak bursa sudah mulai menampilkan segmentasi data free float yang lebih detail di situs resmi sejak 2 Januari 2026 lalu. Namun, tantangan besar tetap ada di bulan Juni mendatang jika persyaratan MSCI belum terpenuhi sepenuhnya.

Iman memastikan koordinasi antara Bursa, KSEI, dan OJK terus berjalan untuk menyelaraskan data. Ia berharap investor tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan terhadap pengumuman ini.

“Kita akan do, akan berkomitmen terbaik untuk bisa memenuhi transparansi karena ini juga bukan hanya baik buat MSCI, tetapi baik juga buat pasar modal Indonesia. Jadi kita bicara ini adalah transparansi data yang baik juga buat industri pasar modal kita. Jadi kita bicara bukan karena ini permintaan MSCI kita akan penuhi, tidak, tapi kami melihat ini ada positive side,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Medco Targetkan Produksi 170 Ribu Barel Minyak per Hari pada 2026, Tertinggi Sepanjang  Sejarah

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Manajemen PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)...

BEI Lepas Gembok 5 Saham Ini Mulai Besok, Ada IFSH Hingga LMPI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali...

IHSG Anjlok Lebih dari 7%, Gema Goeyardi Minta Investor Tak Panik dan Lirik Saham Bank

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar modal Indonesia kembali mengalami guncangan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru