back to top

IHSG Anjlok Lebih dari 7%, Gema Goeyardi Minta Investor Tak Panik dan Lirik Saham Bank

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pasar modal Indonesia kembali mengalami guncangan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7% pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Kondisi ini memicu kepanikan luas di kalangan investor ritel.

Meski demikian, penurunan tajam ini sudah diprediksi sebelumnya. Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci International, sudah memberikan peringatan sejak akhir tahun lalu. Ia memproyeksikan indeks berpotensi koreksi setelah menyentuh area 9.150.

Gema Goeyardi menilai tekanan besar ini dipicu oleh fenomena Defect System. Kondisi pasar tersebut mendorong terjadinya panic selling secara masif. Aksi jual terutama melanda saham-saham dengan valuasi tinggi.

Situasi ini dinilai mirip dengan kondisi pasar saat pengumuman Tariff War pada tahun 2025. Saat itu, sentimen negatif menyebar luas tanpa penyaringan fundamental yang memadai.

Menariknya, pergerakan pasar saat ini dikaitkan dengan siklus astrologi Mars Conjunction Pluto. Siklus ini muncul tepat pada 28 Januari 2026. Kejadian serupa pernah terjadi pada 24 Maret 2020 saat pandemi COVID-19.

“Mars Conjunction Pluto kerap menjadi sinyal bahwa pasar berada pada tekanan puncak. Dalam banyak kasus, fase ini justru menandai proses bottoming atau akhir dari penurunan besar. Hari ini menjadi contoh kuat bagaimana harga dan waktu bertemu secara presisi,” jelas Gema di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Penurunan indeks hari ini mengonfirmasi dimulainya Major Cycle Wave 4. Berdasarkan analisis Time Trading Astronacci, target koreksi awal berada di area 8.200. Jika tekanan berlanjut, IHSG berpotensi menguji area 7.956–7.670.

Bahkan, indeks berisiko menyentuh level 6.085. Angka tersebut merupakan “utang pasar” dari gap historis yang belum tertutup. Meski begitu, Gema meminta investor ritel tidak bereaksi secara panik.

IHSG kini telah menyentuh area support penting di sekitar 8.242. Hal ini membuka peluang terjadinya penguatan atau rebound jangka pendek.

“Pada titik ini, waktu dan harga bertemu. Oleh karena itu, kami menilai IHSG memiliki peluang untuk melakukan penguatan jangka pendek. Namun, investor tetap perlu waspada karena koreksi besar belum sepenuhnya selesai. Dalam kondisi seperti ini, strategi jauh lebih penting dibandingkan sekadar spekulasi,” tegasnya.

Gema merekomendasikan beberapa langkah strategis bagi para trader. Investor disarankan memantau area support kunci dan menunggu konfirmasi rebound. Hindari saham-saham yang sudah mahal (overvalued).

Sektor perbankan dinilai lebih defensif dan punya peluang besar. Saat ini, saham-saham bank masih berada dalam kondisi relatif underperform. Kondisi ini membuat sektor perbankan bisa menjadi penopang stabilitas indeks ke depan.

Saham BBRI menjadi salah satu yang layak diperhatikan. Saham ini berpeluang melaju menuju area resistance di Rp4.060. Syaratnya, harga mampu bertahan di atas level support Rp3.440.

Melalui semangat #MarketMerahIngatAstronacci, Gema berkomitmen membantu investor ritel memahami pasar. Ia menekankan pentingnya strategi dalam menghadapi kejatuhan harga.

“Ketika investor ritel panik akibat pasar yang jatuh, time trader tidak ikut panik, karena kami memahami di mana dan kapan harga berpotensi berhenti turun,” ujar Gema.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, BEI “Bedah” Transparansi Demi Jawab Warning MSCI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat...

Medco Targetkan Produksi 170 Ribu Barel Minyak per Hari pada 2026, Tertinggi Sepanjang  Sejarah

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Manajemen PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)...

BEI Lepas Gembok 5 Saham Ini Mulai Besok, Ada IFSH Hingga LMPI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru