STOCKWATCH.ID (SEOUL) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Kospi Korea Selatan sukses mencetak rekor tertinggi selama dua hari berturut-turut. Sentimen positif ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melunakkan ancaman tarif terhadap Seoul.
Mengutip CNBC International, Trump memberikan sinyal damai terkait ketegangan perdagangan kedua negara. “Kami akan menyelesaikannya dengan Korea Selatan,” ujar Trump. Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi para investor di Negeri Gingseng.
Indeks Kospi ditutup menguat 1,69% ke level 5.170,81. Kenaikan lebih tajam terjadi pada indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil dengan lonjakan 4,7% ke posisi 1.133,52. Performa ini menjadikan bursa Korea Selatan sebagai pemimpin penguatan di Asia.
Bursa saham Jepang juga mencatatkan pergerakan tipis di zona hijau. Indeks Nikkei 225 naik marjinal ke posisi 53.358,71 pada akhir sesi. Namun, indeks Topix yang memiliki cakupan lebih luas justru terkoreksi 0,79% ke level 3.535,49.
Mata uang Yen terpantau menguat ke level tertinggi dalam hampir tiga bulan terakhir terhadap USD. Yen sempat menyentuh posisi 152,08 per USD. Kondisi ini dipicu oleh ekspektasi pasar akan adanya intervensi mata uang.
Pasar saham China daratan berakhir di zona positif. Indeks CSI 300 naik 0,26% ke level 4.717,99 dan indeks Shanghai Composite menguat 0,27%. Di Hong Kong, indeks Hang Seng melonjak 2,58% pada jam terakhir perdagangan berkat dorongan saham sektor energi.
Bursa Australia gagal mempertahankan tren positifnya. Indeks S&P/ASX 200 turun 0,13% menjadi 8.929,9 dan memutus rekor kenaikan tiga hari beruntun. Penurunan ini terjadi seiring rilis data inflasi Australia sebesar 3,6% pada kuartal terakhir 2025.
Kabar mengejutkan datang dari pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh sedalam 8%. Kejatuhan ini merespons pernyataan penyedia indeks MSCI mengenai potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi pasar perintis (frontier market).
MSCI mengungkapkan alasan dibalik potensi penurunan kelas tersebut. “Investor menyoroti masalah investabilitas fundamental tetap ada karena ketidakterbukaan yang terus berlanjut dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” tulis MSCI.
