STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan dukungan penuh terhadap upaya penguatan pasar modal Indonesia. Ia hadir langsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memantau pertemuan strategis antara pihak BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan tim dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pandu menjelaskan pertemuan dengan penyedia indeks global tersebut bertujuan mendengarkan berbagai masukan konstruktif. Langkah ini sangat penting guna menciptakan iklim investasi yang lebih baik di Tanah Air.
“Kita ingin pasar modal menjadi cara bagi investor dalam dan luar negeri untuk mengekspresikan kepercayaan ke Indonesia,” ujar Pandu di Gedung BEI, Senin (2/2/2026).
Fokus utama pembicaraan dengan MSCI mencakup keterbukaan informasi dan komposisi pemegang saham. Hal ini berkaitan erat dengan porsi saham publik atau free float di pasar.
Menurut Pandu, peningkatan free float harus dilakukan secara bertahap. Ia menargetkan porsi saham publik yang saat ini di kisaran 10% hingga 12% bisa naik menjadi minimal 15% atau lebih.
“Nantinya kita bisa menjual saham-saham tersebut untuk menjadi minimum 15%. Ini perlu market buyer dan selling,” tuturnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kemudahan bagi Dana Pensiun (Dapen) untuk berinvestasi. Salah satunya melalui aturan cut loss provision yang diharapkan segera terealisasi dalam Undang-Undang P2SK.
Kehadiran Dapen di pasar saham diyakini mampu memperbaiki valuasi perusahaan. Pandu menegaskan komunikasi dengan MSCI akan dilakukan selangkah demi selangkah hingga batas waktu bulan Mei mendatang.
“Paling penting dari sisi keterbukaan informasi soal pemegang saham. Eksekusi di sana harus memudahkan Dapen untuk masuk,” jelas Pandu.
Meski hadir di lokasi, Pandu mengaku hanya akan memantau jalannya diskusi. Agenda pertemuan utama dilakukan oleh manajemen BEI dengan tim MSCI.
Sebelumnya, pada kesempatan berbeda, Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mengonfirmasi pertemuan dengan MSCI digelar Senin sore. Tim dari BEI dan OJK hadir dalam diskusi tersebut.
Jeffrey menjelaskan agenda ini fokus pada pendalaman dari sisi permintaan (demand). Target utamanya adalah menarik lebih banyak investor asing masuk ke Indonesia.
BEI berupaya meningkatkan bobot Indonesia dalam konstituen indeks global. Sebagai langkah nyata, pihak SRO berkomitmen untuk meningkatkan keterbukaan atau disclosure sesuai permintaan pasar.
“Agar lebih banyak lagi investor asing masuk dengan penambahan bobot Indonesia dalam konstituen indeks global,” ungkap Jeffrey.
