STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,39% secara tahunan (y-on-y) pada triwulan IV-2025.
Pertumbuhan ini terlihat pada hampir seluruh lapangan usaha. Sektor Transportasi dan Pergudangan mencatat kenaikan paling signifikan mencapai 8,98%. Posisi berikutnya diikuti oleh sektor Jasa Lainnya yang tumbuh sebesar 8,71%.
Industri Pengolahan masih memegang peran dominan dalam perekonomian nasional. Sektor ini tercatat tumbuh sebesar 5,40% pada periode tersebut. Sementara itu, lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian serta Pengadaan Air justru mengalami kontraksi.
“Ekonomi Indonesia triwulan IV-2025 terhadap triwulan IV-2024 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,39%,” tulis rilis resmi BPS, Kamis (5/2/2026).
Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2025 tumbuh 0,86% dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi secara kuartalan diraih oleh Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 13,59%. Sektor Jasa Pendidikan menyusul dengan kenaikan 7,48%.
Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen mencatat pertumbuhan positif secara tahunan. Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh tertinggi sebesar 6,12%. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) juga naik sebesar 5,11%.
Laporan BPS turut menyoroti performa ekonomi secara spasial atau wilayah sepanjang tahun 2025. Pulau Jawa tetap menjadi kontributor utama ekonomi nasional dengan porsi 56,93%. Pulau Sumatera menyusul dengan kontribusi sebesar 22,22%.
Namun, dari sisi kecepatan pertumbuhan, Pulau Sulawesi menjadi yang terdepan. Kelompok provinsi di Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 6,23%. Pulau Jawa menyusul di posisi kedua dengan pertumbuhan 5,30%.
“Kelompok provinsi di Pulau Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,23%,” jelas laporan tersebut.
Pulau Maluku dan Papua tercatat sebagai wilayah dengan pertumbuhan terendah. Wilayah tersebut hanya tumbuh sebesar 1,44% sepanjang tahun 2025. Penurunan pada sektor Pertambangan dan Penggalian menjadi salah satu faktor penahan laju pertumbuhan di beberapa daerah.
