STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat pada penutupan perdagangan Rabu (11/2/2026). Investor tetap optimis meski data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) mengecewakan dan inflasi China berada di bawah ekspektasi.
Mengutip CNBC International, pelaku pasar di Asia sedang mencermati data inflasi China untuk bulan Januari. Indeks harga konsumen (CPI) negara tersebut naik 0,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Data Biro Nasional Statistik China menunjukkan angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 0,4%.
Realisasi tersebut menjadi tanda tekanan deflasi yang terus berlanjut. Kondisi ini dipicu oleh kurangnya stimulus yang lebih kuat dari pemerintah setempat. Investor di Asia tampak mengabaikan sentimen negatif yang sempat menekan pasar global.
Di sisi lain, laporan penjualan ritel AS periode Desember menunjukkan pengeluaran konsumen cenderung datar. Capaian ini meleset dari target kenaikan bulanan 0,4% yang diharapkan para ekonom dalam jajak pendapat Dow Jones.
Indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup naik 1,43% ke level 9.014,80. Indeks Kospi Korea Selatan juga menguat 0,6% ke posisi 5.354,49. Penguatan ini menandai kenaikan untuk hari ketiga secara berturut-turut bagi bursa Seoul.
Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turut tumbuh 0,55%. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong menambah penguatan sebesar 0,13% ke level 27.266,38.
Indeks CSI 300 di China daratan justru terkoreksi tipis 0,26%. Di sisi lain, pasar saham Jepang hari ini ditutup karena adanya hari libur nasional.
