STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari 1% pada akhir perdagangan Rabu (11/2/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (12/2/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan jika ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat. Di sisi lain, penurunan stok minyak di beberapa titik penyimpanan utama menunjukkan permintaan mulai menguat.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 1,13 USD atau 1,64%. Minyak acuan global ini berakhir pada level 69,93 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,15 USD atau 1,8%. Minyak WTI ditutup pada posisi 65,11 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Giovanni Staunovo, Analis Minyak UBS, memberikan pandangannya mengenai situasi di Timur Tengah. Ia menilai konflik tersebut masih menjadi faktor utama penyokong harga.
“Ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus mendukung harga, meskipun sejauh ini belum ada gangguan pasokan,” ujar Giovanni Staunovo.
Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah persiapan Washington dan Teheran untuk melanjutkan negosiasi. Perundingan tersebut bertujuan mencegah pecahnya konflik baru.
Tamas Varga, Analis PVM Oil Associates, turut memberikan analisanya melalui sebuah catatan resmi. Ia melihat adanya harapan dalam proses diplomasi tersebut.
“Meskipun retorika terkadang tetap agresif, tidak ada tanda-tanda, setidaknya untuk saat ini, adanya eskalasi, dan Presiden AS yakin Iran pada akhirnya akan ingin mencapai kesepakatan mengenai program rudal nuklirnya,” kata Tamas Varga.
Selain faktor geopolitik, pelemahan nilai tukar dolar AS turut membantu kenaikan harga minyak. Mata uang AS yang lebih lemah membuat minyak mentah lebih murah bagi pembeli luar negeri. Hal ini secara otomatis mendorong permintaan komoditas yang dihargai dalam dolar tersebut.
Staunovo juga menyoroti kondisi stok minyak di pusat penyulingan dan penyimpanan independen Amsterdam-Rotterdam-Antwerpen (ARA) serta Fujairah. Penurunan stok di wilayah tersebut mengindikasikan pasar yang mulai ketat.
Sementara itu, OPEC merilis laporan bulanan terbaru mengenai prospek pasar. Organisasi negara pengekspor minyak ini tidak banyak mengubah ekspektasi pasokan dan permintaan global. Namun, OPEC memperkirakan permintaan minyak global akan turun sebanyak 400.000 barel per hari (bpd) pada kuartal kedua dibandingkan kuartal pertama.
Produksi minyak Rusia juga dilaporkan mengalami penurunan tipis sebesar 0,6% pada Januari dibandingkan bulan sebelumnya. Di belahan dunia lain, Mesir menginstruksikan perusahaan minyak internasional untuk menggandakan produksi pada tahun 2030. Pemerintah Mesir berencana merevisi kontrak yang ada guna memacu investasi baru.
Saat ini, para pelaku pasar tengah menantikan rilis data resmi inventaris minyak mingguan dari Badan Informasi Energi (EIA). Sebelumnya, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS naik 13,4 juta barel untuk pekan yang berakhir 6 Februari.
