back to top

Bursa Saham Asia Terpuruk Berjamaah, Investor Cemas Gangguan AI

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/2/2026). Pergerakan ini mengekor pelemahan di Wall Street akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan kecerdasan buatan (AI). Sentimen negatif ini membuat indeks S&P 500 mengalami penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,21% dan berakhir di posisi 56.941,97. Indeks ini sempat menyentuh level 58.000 pada perdagangan Kamis kemarin. Indeks Topix juga turun 1,63% menjadi 3.818,85 karena terseret saham-saham energi.

Kondisi serupa terjadi di bursa Korea Selatan. Indeks Kospi melemah 0,28% ke level 5.507,01. Penurunan ini sekaligus menghentikan tren kenaikan yang terjadi selama empat hari sebelumnya. Sementara itu, indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil turun 1,77% ke posisi 1.106,08.

Pasar saham China dan Hong Kong juga tidak berdaya. Indeks Hang Seng di Hong Kong anjlok 1,71% pada jam terakhir perdagangan akibat tekanan saham material dasar. Indeks CSI 300 di China daratan juga terkoreksi 1,25% dan parkir di level 4.660,41. Indeks Shanghai Composite merosot 1,26% ke posisi 4.082,07.

Bursa Australia turut mencatatkan rapor merah. Indeks S&P/ASX 200 turun 1,39% ke level 8.917,6. Sektor kesehatan menjadi pemberat utama indeks di bursa Negeri Kanguru tersebut.

Sejumlah sektor di pasar saham Amerika Serikat memang terpukul rilis alat AI baru tahun ini. Teknologi tersebut mengancam otomatisasi tugas-tugas perusahaan. Investor khawatir hal ini akan menggerus margin keuntungan perusahaan.

Saham perusahaan truk dan logistik ikut merosot. Muncul ketakutan alat AI baru mampu memangkas ketidakefisienan pengiriman secara besar-besaran. Hal ini berisiko menurunkan permintaan layanan industri tersebut. Saham perangkat lunak seperti Palantir Technologies dan Autodesk juga tergelincir akibat kekhawatiran serupa.

Investor di Asia mewaspadai efek rembetan tersebut. Saham IT di Jepang dan India kompak melemah. Saham Trend Micro dan NS Solutions masing-masing turun sekitar 5,61% dan 2,4%. Di India, Tata Consultancy Services turun 1,82%, sementara Infosys merosot 1,48%.

Saham teknologi China tidak luput dari aksi jual. Alibaba turun 2,14% dan Baidu melemah lebih dari 3%. Raksasa teknologi Meituan juga kehilangan 3,06% nilai sahamnya. Saat sentimen ini melanda, pasar saham Taiwan justru tutup karena libur Tahun Baru Imlek.

Meski mayoritas melemah, beberapa saham AI di Hong Kong justru melonjak. Zhipu AI atau Knowledge Atlas Technology melesat 16% setelah sebelumnya naik hampir 30%. Investor antusias menyambut model open-source GLM-5 yang baru diluncurkan.

Saham MiniMax juga bertambah lebih dari 11%. Penguatan ini didorong momentum pembaruan model M2.5 dan alat agen AI yang ditingkatkan. Selain itu, saham Beijing Haizhi Technology Group meroket lebih dari 260% usai melantai di bursa dengan nilai IPO sebesar 97 juta USD.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Berakhir Variasi, Inflasi Melandai Tapi Pasar Belum Bergairah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Bursa Saham Eropa Parkir di Zona Merah, Sentimen AI Picu Aksi Jual

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Kekhawatiran Disrupsi AI Hantui Wall Street, Indeks Dow Jones Terperosok 600 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru