STOCKWATCH.ID (WASHINGTON DC) – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani mengamankan komitmen besar dari raksasa tambang Freeport. Kesepakatan ini mencakup perpanjangan izin operasi hingga tahun 2061.
Langkah strategis tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Amerika Serikat (AS). Rosan Perkasa Roeslani, yang juga menjabat CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menandatangani kesepakatan mineral kritis tersebut di Washington DC.
Penandatanganan dilakukan bersama President & CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk dan President Director PT Freeport Indonesia Tony Wenas. Melalui mandat yang diterima, Rosan memastikan Freeport akan menambah suntikan modal dalam jumlah masif ke Indonesia.
“Pihak Freeport bisa meningkatkan investasinya kurang lebih dalam 20 tahun ke depan nilainya itu 20 miliar USD,” ujar Rosan dalam keterangan pers pada Jumat pagi (20/2/2026) WIB.
Investasi jumbo ini diproyeksikan memberikan dampak positif bagi negara. Salah satunya melalui peningkatan penerimaan pajak dan sektor ekonomi lainnya. Pemerintah menargetkan kesepakatan ini segera menjadi definitive agreement.
Perpanjangan kontrak Freeport dari tahun 2041 sampai 2061 ini merupakan salah satu poin dari 11 nota kesepahaman (MoU) yang diteken. Total nilai seluruh kerja sama tersebut mencapai USD 38,4 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menyebut kesepakatan ini memperkuat aliansi ekonomi kedua negara. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump bahkan telah menandatangani kerja sama bertajuk ‘Towards a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance’.
Airlangga Hartarto menjelaskan pertemuan bilateral kedua pemimpin dunia itu berlangsung cukup lama. Mereka berdiskusi intensif selama 30 menit setelah kegiatan Board of Business.
“Ini adalah pengembangan critical mineral, dalam hal ini adalah perpanjangan daripada Freeport-McMoRan dari 2041 sampai 2061,” kata Airlangga Hartarto.
Selain mineral kritis, kerja sama kedua negara mencakup berbagai sektor strategis. Indonesia dan AS sepakat melakukan pembelian energi, produk pertanian seperti jagung dan kapas, hingga sektor teknologi.
Program hilirisasi juga mendapat perhatian serius dalam aliansi ini. Pengembangan silika hingga silika iron untuk produksi semikonduktor mulai dijalankan. Kerja sama ini juga melibatkan pengembangan kawasan industri bersama perusahaan asal Amerika Serikat.
Kesepakatan dagang ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. Pemerintah optimistis kolaborasi strategis ini akan membawa hubungan Indonesia dan AS ke era keemasan.
