back to top

Trump Timbang Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Tertahan Stabil

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia bergerak stabil pada akhir perdagangan Jumat (20/2/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (21/2/2026) WIB. Kestabilan ini terjadi di tengah memanasnya kembali geopolitik Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan serangan militer terbatas untuk menekan program nuklir Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 10 sen. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 71,76 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Maret jatuh 4 sen. Minyak WTI berakhir pada posisi 66,39 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Kedua patokan harga energi ini sempat menyentuh level tertinggi dalam enam bulan pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar terus memantau risiko pasokan di kawasan Timur Tengah.

AS dan Iran sebenarnya telah menggelar pembicaraan di Swiss pekan ini. Mereka berusaha mengurai kebuntuan soal program nuklir Teheran. Laporan awal sempat menunjukkan adanya kemajuan.

Namun, harapan tersebut perlahan pudar. Washington menuduh Iran gagal memenuhi tuntutan utama AS. Trump lalu memberikan peringatan keras. Ia menyebut hal buruk akan terjadi jika Teheran menolak kesepakatan.

Trump memberi tenggat waktu. Dunia akan melihat keputusan AS dalam 10 hari ke depan. AS bisa mencapai kesepakatan atau justru mengambil tindakan militer tegas. Target kesepakatan ini diharapkan rampung dalam waktu 10 hingga 15 hari.

Di Gedung Putih, Trump menjawab pertanyaan wartawan soal kemungkinan serangan militer terbatas tersebut.

“Saya rasa saya bisa mengatakan saya sedang mempertimbangkan hal tersebut,” kata Trump.

AS dilaporkan terus menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. Serangan baru ke Teheran kabarnya bisa terjadi akhir pekan ini. Trump menyebut potensi nuklir Iran sudah hancur total akibat serangan AS pada Juni tahun lalu. AS bisa saja mengambil langkah lebih jauh.

Iran merespons ancaman ini dengan lantang. Melalui surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Teheran siap membalas secara meyakinkan jika kembali diserang.

Republik Islam tersebut juga mulai unjuk kekuatan. Mereka menggelar latihan militer di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Iran turut mengadakan latihan angkatan laut gabungan bersama Rusia di Teluk Oman.

Daniel Shapiro, mantan Duta Besar AS untuk Israel, melihat persiapan serangan sudah matang. Namun, pelaksanaannya tidak serta merta langsung terjadi saat ini juga.

“Semuanya sudah siap, atau akan siap pada Sabtu malam, untuk memulai serangan dan kemudian jendelanya terbuka,” ungkap Shapiro. “Bukan berarti hal itu akan segera terjadi. Presiden memang mengindikasikan ia sedang menunggu kabar dari Iran.”

Shapiro meragukan Iran mau mengalah dan memberikan konsesi. Ia memprediksi keputusan serangan militer AS akan segera diambil dalam beberapa hari ke depan.

Di sisi lain, pemerintah AS masih berharap ada solusi diplomatik. Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, menyebut Iran akan sangat bijaksana jika mau membuat kesepakatan.

Martijn Rats, Chief Commodity Strategist di Morgan Stanley, menilai pasokan minyak global saat ini sangat melimpah. Meski begitu, ada tiga faktor utama penopang pergerakan harga minyak. Isu Iran menjadi sentimen paling menonjol.

“Kekhawatiran tentang Iran, jelas,” urai Rats. “Selain itu, jumlah pembelian yang luar biasa besar oleh Tiongkok, semata-mata untuk tujuan penimbunan. Dan kemudian kita juga memiliki tarif angkutan yang sangat tinggi.”

Ketegangan politik ini makin memanas usai Wakil Presiden AS JD Vance ikut angkat bicara. Ia menuduh Iran gagal membahas batas merah negosiasi. Laporan soal peningkatan kapasitas militer AS di kawasan itu juga terus bermunculan.

Ahli strategi di Barclays memberikan pandangan terkait potensi konflik ini. Serangan AS kemungkinan besar hanya akan berlangsung singkat dengan target spesifik. Sasarannya mungkin berfokus pada fasilitas nuklir atau rudal balistik.

“Dengan adanya pemilihan umum paruh waktu akhir tahun ini dan pemerintah memprioritaskan keterjangkauan bagi konsumen AS, kami menduga kesediaan mereka menoleransi periode harga minyak yang jauh lebih tinggi dalam waktu lama, dan juga potensi korban jiwa, akan terbatas,” tulis analis Barclays. “Jadi jika konflik sudah dekat, kemungkinan akan berlangsung singkat, menurut pandangan kami.”

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Terbang Tinggi Usai Ekonomi AS Melemah dan Trump Umumkan Tarif Baru

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Tensi AS-Iran Memanas, Harga Emas Dunia Bertahan di Level USD 4.979

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia cenderung bergerak mendatar...

Ancaman Serangan ke Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 2%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru