back to top

Harga Emas Terbang Tinggi Usai Ekonomi AS Melemah dan Trump Umumkan Tarif Baru

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah baru pada perdagangan Jumat (20/2/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (21/2/2026) WIB. Logam mulia ini naik tajam lebih dari 1%. Rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang melemah menjadi pendorong utamanya. Keputusan Presiden Donald Trump menyoal tarif baru juga ikut mengangkat harga.

Mengutip CNBC International, harga emas spot melonjak 1,5% ke level USD 5.071,48 per ons troi pada pukul 14.08 waktu setempat. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman April ditutup menguat 1,7%. Harganya menetap di posisi USD 5.080,90 per ons troi.

Mahkamah Agung AS baru saja membatalkan kebijakan tarif global darurat Trump. Aturan ini sebelumnya bernaung di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional. Pengadilan menilai sang presiden telah melampaui batas kewenangannya. Keputusan pengadilan ini sempat membuat bursa saham Wall Street melonjak.

Merespons putusan tersebut, Trump tidak tinggal diam. Ia mengumumkan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 10% selama 150 hari ke depan. Kebijakan ini hadir untuk menggantikan tarif darurat yang dibatalkan oleh pengadilan tinggi.

Tai Wong, Independent Metals Trader, memberikan analisanya terkait manuver Trump ini. Langkah sang presiden diprediksi akan terus memicu gejolak di pasar.

“Sulit melihat presiden mengumpulkan mainannya dan pulang; ia akan mencoba menetapkan kembali tarif menggunakan undang-undang lain yang akan mendorong volatilitas,” ujar Wong.

Wong juga meyakini prospek logam mulia ini tetap cerah ke depannya di tengah gejolak aturan tersebut.

“Ketidakpastian jangka menengah tidak akan menghalangi para pembeli emas,” tambah Wong.

Selain isu tarif, harga emas juga tertopang oleh data ekonomi AS terbaru. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS melambat tajam pada kuartal keempat. Angkanya hanya mencapai 1,4% secara tahunan. Pencapaian ini jauh di bawah perkiraan para ekonom sebesar 3%.

Penutupan pemerintahan atau government shutdown menjadi salah satu pemicu utama turunnya PDB. Melemahnya belanja konsumen juga ikut memukul aktivitas ekonomi negara tersebut.

Di sisi lain, indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) justru naik 0,4% pada bulan Desember. Angka ini merupakan indikator inflasi acuan bank sentral AS atau The Fed. Kenaikannya melebihi ekspektasi pasar yang mematok angka 0,3%.

Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, menyoroti rilis data ganda tersebut. Menurutnya, inflasi masih membayangi pasar di tengah perlambatan ekonomi.

“(Data tersebut) menunjukkan inflasi masih ada di pasar … tetapi dengan PDB yang lebih rendah, hal ini menunjukkan ekonomi belum mendekati titik balik. Masih banyak hal yang belum diketahui dan ketidakpastian seputar ekonomi AS, dan hal itu mendukung emas,” papar Haberkorn.

Pelaku pasar kini masih menaruh harapan pada kebijakan The Fed. Mereka memprediksi bank sentral akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali tahun ini. Masing-masing pemangkasan diperkirakan sebesar 25 basis poin.

Pemangkasan pertama diantisipasi terjadi pada bulan Juni mendatang. Emas sebagai aset aman (safe-haven) biasanya selalu bersinar ketika suku bunga sedang rendah dan ketidakpastian ekonomi tinggi.

Tren positif ini ternyata ikut merembet ke logam mulia lainnya. Harga perak spot melonjak tajam 5,8% ke level USD 82,92 per ons troi. Harga platinum spot juga melesat 4,5% menjadi USD 2.163,53. Sementara itu, harga paladium naik 4% ke posisi USD 1.751,70 per ons troi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Trump Timbang Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Tertahan Stabil

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia bergerak stabil...

Tensi AS-Iran Memanas, Harga Emas Dunia Bertahan di Level USD 4.979

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia cenderung bergerak mendatar...

Ancaman Serangan ke Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 2%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru