back to top

Akselerasi Kredit Butuh Penguatan Sisi Demand, Bos BRI: Fundamental Perbankan Sangat Solid

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Industri perbankan nasional saat ini berada dalam kondisi fundamental yang sangat tangguh. Likuiditas melimpah dan permodalan sangat kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi ke depan. Namun, upaya memacu penyaluran kredit menghadapi tembok besar pada sisi permintaan atau demand. Dunia usaha masih menunjukkan sikap menunggu (wait and see) serta daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Hery Gunardi menyampaikan analisis mendalam tersebut dalam acara Economic Outlook 2026. Diskusi yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Kamis (19/2) ini menghadirkan tokoh penting ekonomi nasional. Hadir dalam acara tersebut Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Turut serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu serta CEO Standard Chartered Donny Donosepoetro.

Hery memaparkan data fundamental perbankan yang sangat meyakinkan bagi para investor dan pelaku pasar. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat menguat hingga 11,4% YoY. Angka ini mencerminkan ketersediaan dana di bank sangat mencukupi. Rasio Loan-to-Deposit Ratio (LDR) industri juga terjaga sehat pada kisaran 84% YoY. Dari sisi keamanan modal, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 26%. Rasio ini jauh melampaui batas minimum yang ditetapkan regulator.

Persoalannya, pertumbuhan kredit secara tahunan hingga Desember 2025 masih tertahan pada level satu digit. Merujuk data Bank Indonesia, pelemahan ini dipicu oleh rendahnya minat meminjam dari masyarakat dan perusahaan. Permintaan kredit baru merosot tajam di hampir seluruh segmen. Kredit konsumsi terjun bebas dari 62,9% menjadi tinggal 13,4%. Segmen UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi juga turun dari 78,4% ke level 58,8%.

Fenomena ini kian nyata dengan meningkatnya undisbursed loan atau fasilitas kredit yang sudah disetujui namun belum ditarik oleh nasabah. Rata-rata undisbursed loan kini naik menjadi 10,22%. Fasilitas dana sebenarnya sudah tersedia di meja perbankan. Namun, pelaku usaha dan rumah tangga masih ragu untuk mengeksekusi ekspansi mereka.

“Tantangannya bukan pada supply dana, tetapi pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan,” ujar Hery Gunardi.

Risiko kredit juga menjadi perhatian serius perbankan saat ini. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) pada segmen UMKM mulai merangkak naik sejak Desember 2024. Level NPL ini masih bertahan tinggi hingga saat ini. Arus kas pelaku usaha kecil nampaknya belum pulih dari tekanan ekonomi. Kondisi ini memaksa bank menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif demi mitigasi risiko.

Sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian turut menyumbang perlambatan kredit nasional. Ketiga sektor ini merupakan kontributor utama PDB Indonesia. Manufaktur menyumbang hampir 20% terhadap ekonomi dan sangat menentukan kebutuhan modal kerja. Sektor perdagangan sangat sensitif terhadap daya beli masyarakat. Sementara itu, sektor pertanian berkaitan erat dengan nasabah mikro dan kecil.

Pemerintah sebenarnya telah mengucurkan likuiditas tambahan sebesar 200 triliun. Namun, guyuran dana ini belum mampu mendongkrak kredit secara instan. Struktur ekonomi sektoral yang padat karya membuat pertumbuhan kredit sangat bergantung pada siklus ekonomi riil. Diversifikasi pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi kini menjadi kunci utama.

Hery menilai arah kebijakan fiskal dan moneter saat ini sudah sangat kredibel dan mendukung pertumbuhan. Optimisme pelaku usaha mulai tumbuh, meski belum terealisasi dalam bentuk ekspansi nyata. Fokus pemerintah dan perbankan kini harus bergeser pada percepatan implementasi kebijakan di lapangan.

Perbankan, terutama kelompok Himbara, berkomitmen menyukseskan berbagai program strategis nasional. Program Makan Bergizi Gratis dan Program 3 Juta Rumah diyakini mampu menjadi motor penggerak baru. Begitu pula dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program-program ini diharapkan menciptakan multiplier effect bagi lapangan kerja dan daya beli.

Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal yang akomodatif akan membuka ruang ekspansi lebih luas. Perbankan tidak lagi sekadar menyalurkan dana secara konvensional. Fokus utama adalah membiayai ekosistem pertumbuhan yang memiliki kualitas dan berkelanjutan.

“Moderasi kredit saat ini bukan semata karena faktor likuiditas,” ucap Hery.

“Ke depan, fokus perlu bergeser dari narasi optimisme menuju akselerasi implementasi yang benar-benar dirasakan oleh dunia usaha,” pungkasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba Bersih Bank Danamon (BDMN) Melesat 14% Menjadi Rp4,0 Triliun pada 2025

STOCKWATCH.ID ( JAKARTA) – PT Bank Danamon Indonesia Tbk...

Produksi U-Bolt, INDS Incar Pasar Timur Tengah dan Targetkan Tiga Besar Domestik

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Indospring Tbk (INDS) tancap gas...

Adira Finance (ADMF) Cetak Laba Rp1,54 Triliun pada 2025, Turun 14,68%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Pendapatan bersih emiten pembiayaan konsumen, PT Adira...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru