STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Kamis sore (2/4/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (3/4/2026) WIB. Indeks Dow Jones melemah di tengah gejolak pasar akibat lonjakan harga minyak mentah. Investor merespons pernyataan Presiden Donald Trump terkait kelanjutan perang Iran.
Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York terpangkas 61,07 poin atau 0,13% ke level 46.504,67. Indeks S&P 500 (SPX) justru naik tipis 0,11% dan berakhir di posisi 6.582,69. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) menguat 0,18% menjadi 21.879,18.
Ketiga indeks utama sempat bergerak sangat liar sepanjang sesi perdagangan. Awalnya, bursa sempat anjlok tajam hingga titik terendah harian. Indeks Dow Jones sempat merosot lebih dari 600 poin atau 1,4%. S&P 500 dan Nasdaq juga sempat jatuh masing-masing 1,5% dan 2,2%.
Aksi jual mereda setelah media pemerintah Iran melaporkan adanya kerja sama dengan Oman. Kedua negara tersebut sedang menyusun protokol pemantauan kapal di Selat Hormuz. Kabar ini sempat membawa tiga indeks utama masuk ke zona hijau sejenak.
Todd Schoenberger, Chief Investment Officer di CrossCheck Management, menyoroti pentingnya pembukaan kembali selat tersebut. Menurutnya, isu ini bukan sekadar soal minyak.
“Sangat penting bagi Amerika Serikat selat itu dibuka kembali, bukan karena minyak tetapi karena helium. Helium lebih berharga daripada minyak asing mengingat penggunaannya dalam pemrosesan semikonduktor dan tidak ada penggantinya. Harapkan lebih banyak volatilitas menjelang akhir pekan yang panjang,” ujar Schoenberger.
Ketidakpastian pasar tercermin dari indeks volatilitas CBOE atau indikator ketakutan Wall Street. Indeks ini menyentuh level tertinggi sesi di atas angka 27. Pelaku pasar terlihat ragu mengambil keputusan di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Melissa Brown, Managing Director of Investment Decision Research di SimCorp, memberikan analisanya kepada CNBC. Ia melihat ada keraguan besar di kalangan investor saat ini.
“Saya pikir investor bereaksi secara spontan — mereka ingin beritanya bagus, tetapi kemudian memikirkannya sedikit lebih lama dan memutuskan mungkin ketidakpastian masih terlalu tinggi, makanya volatilitas intraday tinggi,” kata Brown.
Sentimen negatif dipicu oleh pidato Presiden Donald Trump pada Rabu malam. Trump memberikan kabar terbaru mengenai konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan Amerika Serikat akan memukul Teheran dengan sangat keras.
“Selama dua hingga tiga minggu ke depan, kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada,” tegas Trump.
Pernyataan keras Trump memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 11,41% menjadi USD 111,54 per barel. Ini merupakan level tertinggi sejak 28 Juni 2022. Minyak Brent juga naik 7,78% ke level USD 109,03 per barel.
Meski penuh volatilitas, ketiga indeks utama tetap membukukan penguatan mingguan. Indeks S&P 500 naik 3,4% dalam sepekan. Dow Jones menguat hampir 3% dan Nasdaq memimpin kenaikan sebesar 4,4%.
Perdagangan hari Kamis ini menjadi hari terakhir di pekan yang singkat. Pasar saham akan tutup pada hari Jumat untuk memperingati Jumat Agung. Namun, laporan data pekerjaan bulan Maret tetap dijadwalkan rilis pada Jumat pagi waktu setempat.
