Antisipasi Dinamika Suku Bunga dan Geopolitik Semester II 2026, Begini Strategi Bank Mandiri (BMRI)
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mewaspadai sejumlah tantangan pada semester II 2026. It, terutama dinamika suku bunga, stabilitas nilai tukar, serta ketidakpastian ekon...
STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mewaspadai sejumlah tantangan pada semester II 2026. It, terutama dinamika suku bunga, stabilitas nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Perseroan juga menyiapkan strategi untuk menjaga likuiditas sekaligus mempertahankan pertumbuhan kredit di tengah kondisi tersebut.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengatakan arah suku bunga masih menjadi perhatian utama perseroan pada sisa tahun ini karena akan memengaruhi biaya pendanaan, penyaluran kredit, hingga aktivitas ekonomi.
"Dari kami, beberapa hal yang kami cermati di sisa enam bulan ke depan di tahun 2026 ini akan banyak hal yang terkait dengan dinamika suku bunga. Jadi, karena likuiditas tentunya ini akan terkait dengan kenaikan suku bunga. Kemudian stabilitas nilai tukar dan ketidakpastian global dan domestik," kata Riduan, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurut dia, Bank Mandiri akan terus mencermati arah kebijakan suku bunga karena berpengaruh terhadap dinamika pendanaan dan fungsi intermediasi perbankan.
"Pertama, arah suku bunga akan tetap menjadi fokus kami karena akan mempengaruhi dinamika pendanaan untuk penyaluran kredit serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan," ujarnya.
Selain itu, perseroan juga menaruh perhatian terhadap pergerakan nilai tukar. Untuk menghadapi dinamika tersebut, Bank Mandiri mengedepankan pengelolaan risiko yang prudent guna menjaga fundamental perusahaan.
"Kedua, dalam menghadapi dinamika nilai tukar, kami akan terus mengedepankan pengelolaan risiko yang prudent untuk menjaga ketahanan fundamental dan mendukung stabilitas perekonomian nasional," kata Riduan.
Bank Mandiri juga terus memantau perkembangan ekonomi dan geopolitik global yang dinilai dapat memengaruhi harga komoditas maupun pasar keuangan.
"Ketiga, kami akan terus mencermati perkembangan global maupun domestik termasuk dinamika geopolitik dan ekonomi, serta akan mengantisipasi dampaknya terhadap pergerakan harga komoditas dan pasar keuangan," ucapnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Bank Mandiri tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi melalui pertumbuhan berbasis ekosistem, percepatan transaksi, transformasi digital, dan peningkatan kualitas layanan.
"Di tengah berbagai dinamika tersebut, kami tetap berkomitmen menjalankan fungsi intermediasi secara optimal melalui optimalisasi strategi pertumbuhan berbasis ekosistem, akselerasi transaksi dan transformasi digital yang berkelanjutan, serta peningkatan kualitas layanan yang semakin baik," ujar Riduan.
Ia menegaskan, Bank Mandiri akan terus memperluas pembiayaan ke sektor-sektor produktif, termasuk UMKM, dengan tetap mengandalkan fundamental yang kuat.
"Dengan fundamental yang kuat, Bank Mandiri akan terus bertumbuh secara berkelanjutan, memperluas pembiayaan kepada sektor-sektor produktif termasuk UMKM, serta terus mendukung agenda pembangunan nasional sebagai agent of development," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%,. Ini disertai perluasan berbagai kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta meningkatkan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Sepanjang semester I 2026, Bank Mandiri mencatat kinerja positif. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun atau tumbuh 24,4% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pendapatan sebesar 10,3%, ekspansi kredit yang berkualitas, efisiensi operasional, serta kualitas aset yang tetap terjaga.
Penyaluran kredit bank only mencapai Rp1.592 triliun hingga Juni 2026 atau meningkat 19,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut melampaui pertumbuhan kredit industri sebesar 12,7%.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 17,1% menjadi Rp1.710 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri sebesar 10,2%.
Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) tercatat 4,37% pada Juni 2026, turun dari 4,63% setahun sebelumnya seiring kebijakan suku bunga kredit yang lebih kompetitif untuk memperkuat fungsi intermediasi.
Efisiensi operasional juga membaik dengan rasio BOPO bank only sebesar 57,6%, atau membaik 6,2 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan didukung peningkatan produktivitas serta transformasi digital melalui Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri.
Dari sisi kualitas aset, rasio NPL Gross berada di level 0,98%, membaik 10 basis poin secara tahunan. Cost of Credit (CoC) turun menjadi 0,52%, sedangkan NPL Coverage Ratio mencapai 242%.
Dalam pembiayaan berkelanjutan, portofolio ESG Bank Mandiri mencapai Rp327 triliun atau tumbuh 7,5% secara tahunan. Portofolio tersebut terdiri atas pembiayaan hijau sebesar Rp173 triliun dan pembiayaan sosial Rp155 triliun. Perseroan juga memperoleh social loan senilai USD750 juta yang dijamin MIGA untuk mendukung pembiayaan UMKM dan memperkuat inklusi keuangan.