STOCKWATCH.ID (SEMARANG) – Bandeng Juwana Elrina menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang terus berkembang dan diminati pemudik. Usaha keluarga ini tumbuh dari skala sederhana hingga menjadi pusat oleh-oleh yang ramai dikunjungi, terutama saat musim Lebaran.
Bandeng Juwana Elrina didirikan pada 3 Januari 1981. Usaha ini bermula dari stand kecil di depan rumah yang juga difungsikan sebagai tempat praktik dokter.
Jason Nathaniel Kusmadi, cucu pendiri Bandeng Juwana Elrina, menjelaskan awal mula usaha tersebut.
“Bukan toko besar seperti sekarang, melainkan hanya sebuah stand kecil yang menempel di rumah,” ujar Jason dikutip Minggu (22/3/2026).
Tiga tahun kemudian, usaha ini berkembang menjadi toko oleh-oleh pada 1984. Produk utama tetap bandeng presto atau bandeng duri lunak.
Seiring waktu, variasi produk terus bertambah. Selain bandeng presto, tersedia bandeng asap, bandeng dalam sangkar, otak-otak bandeng, hingga boneless bandeng.
Perseroan juga memperluas lini produk di luar olahan bandeng. Produk lain seperti wingko babat, lumpia, tahu bakso, dan bakpia turut dipasarkan.
“Bandeng masih jadi produk yang utama, tapi kalau hanya jualan bandeng, tentu akan sulit bersaing,” kata Jason.
Bandeng Juwana Elrina juga menggandeng pelaku UMKM lokal. Berbagai produk seperti moci, jenang, keripik, dan abon dijual di toko tersebut.
Konsep ini menjadikan toko sebagai pusat oleh-oleh terpadu. Pengunjung dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam satu lokasi.
“Kalau orang datang ke Bandeng Juwana, cari oleh-olehnya ya sudah di sini saja,” ujar Jason.
Dalam pengembangan usaha, Bandeng Juwana Elrina bekerja sama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dukungan yang diberikan mencakup pembiayaan, pelatihan pengelolaan keuangan, serta bantuan pengurusan izin usaha seperti PIRT dan sertifikat halal.
Di area toko juga tersedia BRI Corner. Fasilitas ini menawarkan produk kerajinan dan pernak-pernik yang tidak dijual di toko utama.
Kolaborasi tersebut juga menghadirkan berbagai program bagi pelanggan. Di antaranya cashback, tukar poin, hingga program tebus murah.
Dari sisi kunjungan, lonjakan pengunjung terjadi saat Ramadan dan Lebaran. Puncak keramaian justru terjadi setelah Hari Raya Idulfitri.
“Ramainya justru setelah Lebaran, saat arus balik,” kata Jason.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen BRI dalam mendukung pelaku usaha.
“Kisah Bandeng Juwana Elrina menjadi contoh pelaku usaha yang bisa berkembang melalui pendanaan dan pemberdayaan dari BRI,” ujar Dhanny.
Dukungan tersebut diharapkan mampu mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi daerah.
