STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (11/2/2026) waktu setempat. Investor tengah mencermati banjir rilis laporan laba dari sejumlah perusahaan besar di kawasan tersebut.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir naik tipis 0,10% ke posisi 621,58. Mayoritas bursa utama di kawasan tersebut berada di zona merah. Namun, indeks FTSE 100 Inggris berhasil melawan arus dengan melonjak lebih dari 1%.
Indeks CAC 40 Prancis turun 0,18% ke level 8.313,24. FTSE MIB Italia merosot 0,62% ke posisi 46.510,83. DAX Jerman melemah 0,53% ke level 24.856,15. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol terkoreksi 0,43% ke posisi 18.044,50. Sebaliknya, indeks FTSE 100 Inggris menguat signifikan 1,14% menjadi 10.472,11.
Kenaikan indeks di London didorong oleh aksi investor yang beralih ke saham-saham pertambangan dan energi. Hari Rabu menjadi momen sibuk bagi bursa seiring rilis kinerja keuangan TotalEnergies, Ferrari, hingga Essilor.
Produsen bir asal Belanda, Heineken, mengumumkan rencana pengurangan 5.000 hingga 6.000 karyawan dalam dua tahun ke depan. Langkah ini diambil di tengah upaya strategi pemulihan perusahaan untuk mempercepat pertumbuhan hingga 2030. Heineken menyebut keputusan ini diambil karena perusahaan menghadapi “kondisi pasar yang menantang”.
Total volume produksi Heineken turun 1,2% sepanjang 2025. Meski demikian, laba operasional mereka naik 4,4% dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan memproyeksikan laba operasional tumbuh antara 2% sampai 6% tahun ini. Saham Heineken pun ditutup menguat sekitar 4%.
Kabar kurang sedap datang dari raksasa perangkat lunak Prancis, Dassault Systèmes. Saham perusahaan anjlok lebih dari 20% usai laporan pendapatan tahunan rilis. Pendapatan total mereka tercatat stagnan pada angka 6,24 miliar euro atau setara 7,43 miliar USD. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Sebaliknya, Siemens Energy mencatatkan lonjakan laba bersih hampir tiga kali lipat menjadi 746 juta euro atau sekitar 889 juta USD. Ekspansi pusat data menjadi pendorong utama munculnya “permintaan yang kuat” hingga mencetak rekor pesanan tertinggi. Saham perusahaan yang tercatat di bursa Frankfurt ini melesat 8,4%.
Sektor perbankan Jerman juga memberikan kabar positif. Commerzbank meraih rekor laba operasional sebesar 4,5 miliar euro. Pencapaian ini didorong oleh pendapatan komisi bersih dan kinerja kuat anak usahanya di Polandia, mBank.
Laba bersih Commerzbank mencapai 2,6 miliar euro, melampaui target awal sebesar 2,5 miliar euro. Namun, saham Commerzbank justru ditutup turun 2%. Manajemen optimis laba bersih tahun 2026 akan berada di atas target awal 3,2 miliar euro.
Dari industri penerbangan, saham Lufthansa merosot 4%. Perusahaan bersiap menghadapi aksi mogok kerja karyawan pada hari Kamis besok. Serikat pilot Vereinigung Cockpit (VC) menyerukan pemogokan 24 jam pada 12 Februari. Aksi ini melibatkan maskapai utama dan divisi kargo akibat sengketa dana pensiun.
Di pasar valuta asing, nilai tukar poundsterling Inggris terpantau bergerak datar terhadap USD. Mata uang ini melemah hampir 0,2% terhadap euro. Sentimen ini muncul setelah para petinggi hukum Inggris memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Keir Starmer.
Starmer sebelumnya menolak tuntutan untuk mundur dari jabatannya. Tekanan muncul terkait keputusannya menunjuk duta besar Inggris yang memiliki hubungan dengan Jeffrey Epstein. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris terpantau turun setelah sempat melonjak awal pekan ini.
Kondisi pasar global juga dipengaruhi data tenaga kerja Amerika Serikat. Laporan nonfarm payrolls menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan pada Januari. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari estimasi 55.000. Sementara itu, tingkat pengangguran AS berada di level 4,3%.
