STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (18/2/2026) waktu setempat. Investor merespons positif data inflasi Inggris yang melandai. Sentimen ini muncul di tengah pantauan pelaku pasar terhadap perkembangan pasar global.
Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir naik 1,2% ke posisi 628,69. Hampir semua sektor dan bursa utama di kawasan tersebut berada di zona hijau. Indeks CAC 40 Perancis naik 0,81% ke level 8.429,03. FTSE MIB Italia melonjak 1,30% ke posisi 46.361,09.
Indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,23% ke level 10.686,18. DAX Jerman tumbuh 1,12% ke posisi 25.278,21. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol meningkat 1,35% ke level 18.197,90.
Kabar mengejutkan datang dari perusahaan Jerman, Bayer. Saham Bayer anjlok 7,2% setelah unit usahanya, Monsanto, mengusulkan pembayaran damai sebesar USD 7,25 miliar. Dana ini diajukan untuk menyelesaikan tuntutan hukum terkait produk pembasmi gulma, Roundup, yang diklaim memicu kanker.
Bayer memperkirakan kewajiban litigasi akan membengkak dari USD 9,24 miliar menjadi 11,8 miliar euro. Sekitar 5 miliar euro pembayaran terkait hukum dijadwalkan pada tahun 2026. Bayer juga memprediksi arus kas bebas akan bernilai negatif untuk tahun ini.
Di sisi makroekonomi, tingkat inflasi Inggris turun menjadi 3% pada Januari. Angka ini sesuai dengan perkiraan para ekonom yang dihimpun Reuters. Sebelumnya, inflasi Inggris berada di level 3,4% pada Desember.
David Smith, manajer portofolio di Henderson High Income Trust plc, melihat adanya perubahan tren inflasi. “Inggris telah mengalami inflasi yang lebih tinggi dan lebih lama dibandingkan dengan AS atau kawasan zona euro, namun data hari ini menunjukkan arus sedang berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan kondisi ini berpotensi merubah arah kebijakan moneter. “Inflasi kemungkinan akan turun menjadi 2% pada akhir tahun jika tidak lebih awal, membuka pintu bagi pemotongan suku bunga lebih lanjut oleh Bank of England,” tambah Smith.
Nilai tukar Pound Sterling turun 0,2% terhadap dolar AS menjadi USD 1,3547 setelah rilis data tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris terpantau stabil. Sementara itu, data pengangguran Inggris dilaporkan naik ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir.
