STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang memantau ketat pergerakan saham dua emiten. Kedua saham tersebut adalah PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT ITSEC Asia Tbk (CYBR). Otoritas bursa menemukan indikasi pola transaksi yang tidak wajar pada kedua saham ini.
Yulianto Aji Sadono, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, menyampaikan hal tersebut. Pengumuman ini dikeluarkan sebagai bentuk perlindungan bagi para investor di pasar modal. Status Unusual Market Activity (UMA) ditetapkan karena aktivitas transaksi DGNS dan CYBR bergerak di luar kebiasaan.
“Dalam rangka perlindungan investor, dengan ini kami menginformasikan adanya indikasi pola transaksi yang tidak wajar pada saham… di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA),” ujar Yulianto dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (28/1/2026).
Yulianto menegaskan pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal. Namun, BEI saat ini tengah mencermati perkembangan pola transaksi kedua saham tersebut secara mendalam.
Diagnos Laboratorium Utama (DGNS) terakhir kali menyampaikan informasi pada 8 Januari 2026. Laporan tersebut berisi registrasi bulanan pemegang efek melalui situs resmi BEI. Saham DGNS ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 Januari 2026. Harga terakhir DGNS berada di Rp298, turun 2 poin atau 0,67% dari penutupan sebelumnya di Rp300. Saham ini dibuka di Rp272, sempat menyentuh harga tertinggi Rp314, dan terendah Rp272. Volume transaksi tercatat 6,41 juta saham. Sepanjang tahun berjalan, harga tertinggi DGNS berada di Rp304 pada 26 Januari 2026, sedangkan harga terendah Rp186 pada 2 Januari 2026. Dalam rentang 52 minggu, saham ini bergerak di kisaran Rp121–Rp320. Kapitalisasi pasar DGNS mencapai Rp372,5 miliar.
Sementara itu, ITSEC Asia (CYBR) memberikan informasi terakhir pada 28 Januari 2026 terkait pencatatan saham. saham CYBR juga berakhir di zona merah pada perdagangan yang sama. Harga CYBR turun 110 poin atau 5,91% ke level Rp1.750 dari penutupan sebelumnya di Rp1.860. Saham ini dibuka di Rp1.860, mencatatkan harga tertinggi Rp1.860, dan terendah Rp1.690. Volume perdagangan mencapai 10,39 juta saham. Sepanjang tahun berjalan, harga tertinggi CYBR berada di Rp1.860 pada 20 Januari 2026, sedangkan harga terendah Rp1.655 pada 12 Januari 2026. Dalam periode 52 minggu, saham CYBR bergerak di rentang Rp418–Rp1.970. Kapitalisasi pasar CYBR tercatat sebesar Rp11,73 triliun.
Hingga saat ini, BEI belum menetapkan status penghentian sementara atau suspensi untuk kedua saham tersebut. Perdagangan DGNS dan CYBR masih berjalan di pasar reguler. Status UMA berfungsi sebagai peringatan dini agar investor lebih berhati-hati.
Otoritas bursa meminta para investor memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa. Pelaku pasar juga diharapkan mencermati kinerja perusahaan dan seluruh keterbukaan informasinya. Segala kemungkinan risiko yang mungkin timbul di masa depan harus dipertimbangkan matang-matang sebelum berinvestasi.
Investor disarankan mengkaji kembali rencana aksi korporasi emiten terkait. Terutama jika rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Langkah waspada ini penting agar keputusan investasi tetap didasarkan pada pertimbangan yang objektif.
