STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) belum merealisasikan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Hingga periode 31 Desember 2025, seluruh dana hasil hajatan pasar modal tersebut masih tersimpan rapi di bank.
Emiten produsen permen jeli ini meraup hasil bruto sebesar Rp612,639 miliar. Perolehan dana tersebut didapat setelah pernyataan efektif pada 25 Maret 2025.
Perusahaan mengeluarkan total biaya emisi sebesar Rp15,965 miliar. Biaya ini terdiri atas berbagai jasa profesional pendukung pasar modal. Rinciannya meliputi biaya jasa penjaminan emisi sebesar Rp3,675 miliar dan biaya jasa penyelenggaraan Rp689,219 juta.
Ada pula biaya jasa penjualan Rp689,219 juta serta biaya jasa profesi penunjang pasar modal Rp8,480 miliar. Biaya lainnya mencakup jasa lembaga penunjang Rp1,187 miliar dan konsultasi keuangan Rp992,640 miliar. Sisanya sebesar Rp250,407 juta merupakan biaya lain-lain yang diatribusikan langsung sebagai biaya emisi.
Alhasil, YUPI mengantongi hasil realisasi bersih sebesar Rp596,674 miliar. Hingga akhir tahun lalu, realisasi penggunaan dana masih nihil atau Rp0.
Direktur Keuangan YUPI, Rusman Apandi, menyampaikan laporan ini secara resmi kepada otoritas pasar modal. Laporan penggunaan dana hasil penawaran umum, yang diunggah di laman BEI, Selasa (13/1/2026) itu, ditandatangani bersama Presiden Direktur YUPI, Yolianes Teja.
Sesuai prospektus, YUPI berencana memakai Rp429,605 miliar atau 72% untuk belanja modal. Sisanya sebanyak Rp167,068 miliar atau 28% akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan.
Untuk sementara, sisa dana sebesar Rp596,674 miliar tersebut ditempatkan di Bank CIMB Niaga. Penempatan tersebut memiliki jangka waktu penyimpanan satu bulan.
Perusahaan mendapatkan tingkat bunga sebesar 5% dari rekening tersebut. Penempatan dana ini dilakukan pada pihak ketiga yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan.
