back to top
Senin, Januari 26, 2026
26.8 C
Jakarta

BoJ Tahan Suku Bunga dan Geopolitik Mereda, Bursa Saham Asia Mayoritas Menghijau

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mayoritas menguat pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026). Investor merespons positif langkah Bank of Japan (BoJ) yang mempertahankan suku bunga acuan. Sentimen ini juga didorong oleh meredanya kekhawatiran geopolitik dan penguatan bursa Wall Street.

Mengutip CNBC International, Bank sentral Jepang memutuskan untuk menahan suku bunga kebijakan pada level 0,75%. Keputusan ini diambil saat negara tersebut bersiap menghadapi pemilihan umum. Perdana Menteri Sanae Takaichi baru saja membubarkan Majelis Rendah Jepang. Pemungutan suara dalam pemilihan sela dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari 2026.

Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda memberikan keterangannya usai pertemuan tersebut. Ueda menyebut kondisi keuangan di Jepang tetap akomodatif meskipun ada pergeseran kebijakan. Permintaan dana dari perusahaan-perusahaan juga terus meningkat secara moderat.

Kazuo Ueda mengatakan masih terlalu dini untuk menilai sepenuhnya dampak dari kenaikan suku bunga di masa lalu. Ia menambahkan bank sentral membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengukur dampak kenaikan bunga Desember terhadap ekonomi. Pihaknya akan terus mencermati perkembangan secara cermat.

Pasar bereaksi terhadap data inflasi Jepang bulan Desember yang melambat tajam menjadi 2,1%. Angka ini merupakan level terendah sejak Maret 2022. Sementara itu, tingkat inflasi inti tercatat sebesar 2,4% secara tahunan.

Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup naik 0,29% ke level 53.846,87. Indeks Topix yang lebih luas juga bertambah 0,37% menjadi 3.629,7. Di pasar valuta asing, nilai tukar yen sempat melemah ke level 159 terhadap USD sebelum menguat kembali ke posisi 157,3.

Bursa Korea Selatan mencatatkan kenaikan cukup signifikan. Indeks Kospi melonjak 0,76% ke posisi 4.990,07. Indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil naik lebih tinggi sebesar 2,43% ke level 993,93.

Meski bursa mayoritas menguat, beberapa saham teknologi di Asia justru berguguran. Hal ini menyusul anjloknya saham Intel sebesar 13% di bursa AS semalam. Saham SoftBank Group turun lebih dari 4%, sedangkan Lasertec merosot hampir 6%. Saham Tokyo Electron dan SK Hynix masing-masing terkoreksi lebih dari 1%.

Pasar saham China daratan bergerak variatif. Indeks Shanghai naik 0,33% ke level 4.136,16. Sebaliknya, indeks CSI 300 tergelincir 0,45% ke posisi 4.702,50. Indeks Hang Seng di Hong Kong berhasil menguat 0,41%.

Bursa Australia turut meramaikan tren hijau. Indeks S&P/ASX 200 ditutup naik tipis 0,13% ke level 8.860,1. Investor di Australia tampak lebih berhati-hati dibandingkan bursa Asia lainnya.

Dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 3,953%. Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun naik sekitar 2 basis poin ke posisi 2,259%. Pergerakan ini terjadi setelah imbal hasil sempat menyentuh rekor tertinggi pada awal pekan.

HSBC memprediksi kenaikan suku bunga BoJ berikutnya sebesar 25 basis poin akan terjadi pada Juli 2026. Namun, pelemahan yen lebih lanjut bisa mempercepat waktu kenaikan tersebut. HSBC menandai April 2026 sebagai alternatif waktu kenaikan bunga seiring rilis laporan prospek kuartalan bank sentral.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Bervariasi, Indeks Nasdaq Menghijau Saat Dow Jones Terperosok

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Ericsson Melejit 10%, Bursa Saham Eropa Justru Parkir di Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100% Jika Berani Berurusan dengan China

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru