Bursa Saham Asia Bergerak Variatif, Rekor Baru Nikkei Terpangkas Akibat Ketegangan Iran-AS
STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak variatif (mixed) pada penutupan perdagangan Rabu (27/5/2026). Investor tengah menimbang dampak serangan militer terbaru Amerika Ser...
STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak variatif (mixed) pada penutupan perdagangan Rabu (27/5/2026). Investor tengah menimbang dampak serangan militer terbaru Amerika Serikat (AS) di Iran. Di sisi lain, muncul optimisme mengenai peluang kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.
Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup stagnan pada level 64.999,41. Indeks ini sempat menyentuh rekor tertinggi baru dalam sesi perdagangan sebelum akhirnya melandai kembali. Sementara itu, indeks Topix justru mengalami penurunan sebesar 0,52%.
Bursa Korea Selatan mencatatkan performa gemilang. Indeks Kospi melonjak 2,52% ke posisi 8.228,7. Sebaliknya, indeks Kosdaq yang berisi saham kapitalisasi kecil justru anjlok 3,36% ke level 1.133,13.
Saham Samsung Electronics menjadi penopang utama bursa Seoul dengan kenaikan 2,68%. Penguatan ini terjadi usai serikat pekerja menyetujui kesepakatan upah sementara. Langkah tersebut berhasil mencegah aksi mogok kerja yang berisiko mengganggu rantai pasok semikonduktor global.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 ditutup menguat 0,69% di level 8.717,7. Namun, bursa China mengalami tekanan. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,03% dan CSI 300 China daratan melemah 0,79% ke posisi 4.908,53.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh aksi militer AS di Iran Selatan pada Selasa pagi. Pentagon menyebut serangan tersebut sebagai upaya bela diri terhadap situs rudal dan kapal pengangkut ranjau. Situasi ini menunjukkan rapuhnya gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Presiden Donald Trump memberikan tanggapan mengenai perkembangan negosiasi tersebut. Ia menyebut proses diplomasi masih terus berjalan.
"Pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang berjalan dengan baik," ujar Trump dalam keterangan resminya.
Meski demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada pihak Teheran. Ia menegaskan AS siap melakukan serangan ofensif jika perundingan mengalami kegagalan.