Bursa Saham Eropa Bervariasi, Tersengat Sentimen AI dan Inflasi Zona Euro
STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Jumat (31/7/2026) waktu setempat. Pergerakan ini terjadi di tengah upaya pasar membangun momentum penguatan bulanan. Sentimen positif dari sektor teknologi global sempat mendorong indeks, namun tertahan oleh data inflasi Zona Euro yang merangkak naik.
Mengutip Investing, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 0,1%. Meski melemah tipis, indeks ini tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang Juli. Indeks CAC 40 Perancis naik 0,28% ke posisi 8.509,64. Indeks DAX Jerman ditutup menguat tipis 0,07% ke level 25.629,24.
Indeks FTSE 100 Inggris mengalami penurunan 0,27% ke level 10.868,05. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol meningkat 0,13% ke posisi 19.782,90. Indeks Euro Stoxx 50 yang mencakup saham-saham unggulan kawasan Eropa juga naik 0,34% ke level 6.366,25.
Gairah pasar kembali muncul karena kebangkitan perdagangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham teknologi Eropa mengikuti penguatan yang terjadi di Wall Street dan pasar semikonduktor Asia. Hal ini dipicu oleh laporan keuangan kuartalan Microsoft dan Amazon yang kuat.
Pranav Kashyap, analis dari Investing, mencatat kinerja perusahaan teknologi tersebut membantu meredakan ketakutan investor. Investor sebelumnya khawatir soal besarnya pengeluaran kas dan valuasi AI yang terlalu tinggi. "Hasil kuartalan yang kuat dari Microsoft dan Amazon membantu meredakan ketakutan intens atas pembakaran uang tunai," tulis Pranav.
Di sisi lain, investor mencerna data ekonomi terbaru yang menunjukkan inflasi tahunan Zona Euro naik menjadi 2,9% pada Juli. Angka ini meningkat dari 2,8% pada Juni. Kenaikan harga energi menjadi pemicu utama inflasi tersebut. Inflasi inti yang tidak menghitung harga makanan dan energi juga naik menjadi 2,5%.
Kondisi ini menambah alasan bagi Bank Sentral Eropa untuk tetap berhati-hati. Mereka kemungkinan akan terus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Selain inflasi, pasar sepanjang bulan ini juga menghadapi ketegangan militer di Timur Tengah dan harga energi yang fluktuatif.
Pada sektor korporasi, saham Credit Agricole naik 2,1%. Bank asal Perancis ini mencetak laba kuartal kedua di atas perkiraan berkat pendapatan perbankan ritel dan investasi yang kuat. Pabrikan mobil mewah Ferrari juga menguat setelah menaikkan target laba setahun penuh. Ferrari melihat adanya permintaan tinggi untuk model pesanan khusus.
Namun, kabar buruk datang dari Universal Music Group (UMG). Saham perusahaan musik terbesar dunia ini anjlok hampir 25%. Investor khawatir terhadap momentum streaming UMG setelah pertumbuhan pendapatan langganan dilaporkan melambat.
Saham Siemens Healthineers juga turun 3,3% setelah memangkas target pendapatan tahunan. Perusahaan teknologi medis ini menghadapi hambatan rantai pasok dan pesanan peralatan yang lambat di pasar luar negeri. Induk British Airways, IAG, ikut merosot 1,4% menyusul penurunan tajam laba operasional kuartal kedua.