STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) memberikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penggunaan dana raksasa hasil Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO). Emiten teknologi ini tercatat masih menyimpan sisa dana triliunan Rupiah di instrumen perbankan.
Hingga 31 Desember 2025, Bukalapak telah merealisasikan dana IPO sebesar Rp17,04 triliun. Jumlah ini mencapai 77,81% dari total dana IPO yang diterima sebesar Rp21,9 triliun. Namun, terdapat sisa dana Rp4,28 triliun atau sekitar 19,56% yang belum terpakai.
Dana mengendap tersebut ditempatkan pada instrumen keuangan likuid. Pilihannya jatuh pada deposito, giro, dan obligasi. Manajemen memilih instrumen ini karena memiliki profil risiko rendah.
Sekretaris Perusahaan BUKA, Cut Fika Lutfi, menjelaskan alasan di balik belum terserapnya seluruh dana tersebut. Kondisi ekonomi makro dan dinamika industri teknologi menjadi faktor utama. Perusahaan memilih untuk tidak terburu-buru dalam mengucurkan modal kerja.
“Perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) dan selektif dalam penggunaan dana untuk modal kerja,” ujar Cut Fika Lutfi dalam keterbukaan informasi, Senin (16/2/2026).
Beberapa entitas anak usaha juga menunjukkan penyerapan dana yang bervariasi. PT Buka Mitra Indonesia masih memiliki sisa dana 47,75%. PT Buka Usaha Indonesia bahkan mencatat sisa dana sebesar 79,57%. Sementara itu, PT Buka Pengadaan Indonesia menyisakan 83,49% dana alokasi IPO.
Pihak manajemen kini sedang melakukan evaluasi mendalam. Jadwal dan target penyelesaian penggunaan dana akan disesuaikan kembali. Langkah ini akan mempertimbangkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40 Tahun 2025.
Rencana penyesuaian ini akan disampaikan kepada para pemegang saham. Momentumnya adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terdekat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas perusahaan kepada publik.
“Penyesuaian realisasi dana terutama dipengaruhi oleh dinamika kondisi makroekonomi dan industri teknologi,” tambah Cut.
Selain soal dana IPO, Bukalapak juga memberikan klarifikasi mengenai aksi pembelian kembali saham (buyback). Fase III buyback telah diselesaikan pada 29 Januari 2026. Perusahaan menegaskan tidak ada keterlibatan pihak afiliasi dalam transaksi tersebut.
Seluruh proses buyback dilakukan melalui mekanisme bursa. Perusahaan menggunakan jasa Perantara Pedagang Efek. Bukalapak mengaku tidak memiliki akses terhadap identitas pihak penjual saham di pasar reguler.
“Perseroan tidak memiliki informasi mengenai identitas pihak penjual saham,” tegas Cut dalam laporannya.
BEI sebelumnya meminta penjelasan karena target penggunaan dana modal kerja telah melampaui batas waktu awal. Target tersebut seharusnya rampung pada 31 Desember 2025. Bukalapak memastikan setiap realisasi dana tetap mendukung strategi bisnis jangka panjang.
Ke depan, manajemen berkomitmen menjaga kualitas penggunaan dana. Mereka ingin memastikan setiap Rupiah memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Transparansi melalui mekanisme keterbukaan informasi akan terus dikedepankan.
“Manajemen akan memastikan realisasi sisa dana IPO dilakukan secara optimal, transparan, dan akuntabel,” tutup Cut Fika.
