STOCKWATCH.ID (MAJALENGKA) – Di sebuah sudut kampung di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, suara denting tanah liat dan deru mesin cetak menjadi irama yang tak pernah benar-benar berhenti. Di tempat inilah Hena Gian Hermana menjalankan usaha pabrik genteng yang telah menjadi bagian dari denyut ekonomi lokal selama puluhan tahun.
Dari halaman rumah yang sederhana, tumpukan genteng tanah liat berjejer rapi di bawah terik matahari. Bagi Gian, setiap keping genteng yang dicetak bukan sekadar material bangunan, tetapi juga simbol ketekunan, keberanian, dan harapan untuk mempertahankan usaha tradisional di tengah perubahan zaman.
Usaha pabrik genteng milik keluarganya berdiri sejak 1985. Saat itu, tingginya permintaan atap genteng mendorong banyak pelaku usaha di wilayah Jatiwangi untuk memproduksi genteng tanah liat. Kapasitas produksi yang ada ketika itu belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat.
Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu mulus. Gian mengakui industri genteng mengalami berbagai tantangan, mulai dari perubahan tren bahan bangunan, ketatnya persaingan produk, hingga meningkatnya biaya produksi.
“Berbicara usaha pabrik genteng tentu tidak lepas dari pasang surut. Tantangan zaman, persaingan produk, biaya produksi tinggi, bahan baku terbatas, dan berkurangnya jumlah pegawai membuat banyak pabrik genteng tidak mampu bertahan,” ujar Gian.
Perubahan besar dalam usahanya mulai terjadi ketika ia menjadi nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau memberi ruang bagi Gian untuk mengembangkan usahanya.
Tambahan modal dari KUR dimanfaatkan untuk membeli mesin cetak yang lebih modern serta memperbaiki tungku pembakaran agar lebih efisien. Langkah tersebut meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperbaiki kualitas genteng yang dihasilkan.
Kini, genteng yang diproduksi menjadi lebih seragam, sementara proses produksi berlangsung lebih cepat dibanding sebelumnya.
“BRI tentu menjadi mitra utama bagi pelaku usaha pabrik genteng. BRI memiliki fasilitas pinjaman bunga rendah melalui KUR bagi UMKM seperti kami sehingga produksi genteng dapat terus berjalan,” kata Gian.
Selain pembiayaan, Gian juga merasakan manfaat dari pendampingan usaha yang diberikan oleh BRI. Ia mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih tertib dengan memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat arus kas, serta menyusun rencana pengembangan bisnis.
Dampak lain dari perkembangan usaha tersebut adalah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja. Gian merekrut warga sekitar untuk membantu berbagai proses produksi, mulai dari pencetakan hingga pengangkutan genteng. Usahanya kini menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah keluarga di lingkungan sekitar.
Di tengah maraknya penggunaan atap modern seperti baja ringan dan genteng metal, Gian tetap optimistis terhadap masa depan genteng tanah liat. Menurutnya, produk tradisional ini masih memiliki pasar tersendiri.
“Genteng tanah liat memiliki keunggulan dalam menahan panas dan memberikan nilai estetika yang khas. Kami terus menjaga kualitas agar pelanggan tetap percaya,” ujarnya.
Ke depan, Gian berencana memperluas jaringan pemasaran. Ia tidak hanya ingin mengandalkan pembeli lokal, tetapi juga menargetkan proyek perumahan berskala lebih besar. Selain itu, inovasi desain mulai dipertimbangkan agar produknya mampu bersaing dengan model genteng modern.
Ia juga berharap dukungan dari pemerintah dan lembaga keuangan, termasuk BRI, dapat terus diperkuat agar industri genteng tetap bertahan dan berkembang.
“Dukungan tersebut penting agar usaha pabrik genteng tidak sekadar bertahan untuk memenuhi kebutuhan atap, tetapi juga tetap lestari sebagai warisan leluhur, kekayaan budaya lokal, serta sumber penghidupan bagi para pekerja,” kata Gian.
Dalam kesempatan itu, Gian juga menyinggung program “Gentengisasi” yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan mengganti atap rumah berbahan seng dengan genteng tanah liat sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Menurut Gian, program tersebut menjadi harapan baru bagi industri genteng, khususnya di Jatiwangi yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi genteng terbesar di Indonesia.
Ia menilai program tersebut dapat mendorong kebangkitan industri genteng sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor ini.
Sebagai bank yang memiliki fokus pada pengembangan UMKM dan ekonomi kerakyatan, BRI turut berperan mendukung program pemerintah tersebut melalui pembiayaan Kredit Usaha Rakyat, termasuk KUR Perumahan yang dapat dimanfaatkan dalam program gentengisasi.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan, BRI mengambil peran strategis dalam memfasilitasi pembiayaan antara pengusaha genteng dan pengembang perumahan.
Dalam skema tersebut, pembiayaan dapat difasilitasi setelah terdapat kontrak kerja sama antara pengusaha genteng dan developer.
“Peran BRI berada di tengah. Ketika sudah ada kontrak antara pengusaha genteng dan developer atau pengguna, BRI siap memfasilitasi pembiayaannya. Kebetulan kami sudah memiliki KUR Perumahan, dan bahan bangunan seperti genteng merupakan bagian dari skema tersebut,” ujar Hery.
Menurutnya, sebagai bank yang memiliki DNA kuat dalam mendukung usaha kecil dan rakyat, BRI siap menyediakan pembiayaan untuk mendukung kebutuhan bahan bangunan dalam program gentengisasi.
Hery menambahkan, pembiayaan melalui KUR Perumahan tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian.
Program ini dinilai mampu mendorong aktivitas produksi UMKM bahan bangunan, memperkuat rantai pasok industri perumahan, serta membuka peluang lapangan kerja di berbagai daerah.
Melalui dukungan tersebut, BRI berharap UMKM lokal dapat semakin berdaya saing sekaligus memperkuat industri dalam negeri, termasuk industri genteng tanah liat yang telah menjadi bagian dari warisan budaya dan ekonomi masyarakat Indonesia.
