Data IMF Bikin Kaget! Euro dan Franc Swiss Gerogoti Posisi Dolar AS Sebagai Cadangan Devisa Dunia!
STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tergerus dalam laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF). Pangsa dolar dalam cadangan devisa global turun tipis menjadi 57,7%...
STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tergerus dalam laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF). Pangsa dolar dalam cadangan devisa global turun tipis menjadi 57,7% pada kuartal pertama 2025.
Mengutip CNBC International, posisi ini menurun dari 57,8% di akhir 2024. Di sisi lain, cadangan dalam bentuk euro justru naik dari 19,8% menjadi 20,1%. Ini merupakan level tertinggi euro sejak akhir 2022.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah franc Swiss. Mata uang ini mencatat lonjakan paling tajam. Pangsa cadangan global dalam bentuk franc melonjak empat kali lipat menjadi 0,8%. Ini adalah level tertinggi sejak 1999, tahun ketika euro mulai diperkenalkan.
Pound sterling juga mencatat kenaikan dalam laporan tersebut.
Pasar valuta asing global mengalami gejolak sejak awal tahun. Dolar AS tercatat melemah hampir 4% sepanjang kuartal pertama 2025. Penurunan ini dipicu oleh perubahan kebijakan besar yang dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump, khususnya di bidang perdagangan, keamanan, dan ekonomi.
- Bursa Saham Eropa Bervariasi, Tersengat Sentimen AI dan Inflasi Zona Euro
- Bursa Asia Ditutup Menguat, KOSPI Catat Kenaikan Harian Terbesar Sepanjang Sejar...
- Janu Putra Sejahtera Kantongi Rp70 Miliar dari Penjualan Aset ke Grup De Heus
- Laba Bersih MSIN Naik 13,6% Jadi Rp279 Miliar di Semester I 2026
- Tiket Umum Ludes Sejam, BRI Buka Akses Eksklusif Konser 35 Tahun Twilite Orchest...
- Laba Bersih MSIN Naik 13,6% Jadi Rp279 Miliar di Semester I 2026
- TCPI Catat Laba Rp123,4 Miliar, Tumbuh 25% di Semester I 2026
- Laba ABMM Melonjak 41,9% Jadi USD39,4 Juta di Semester I 2026, Ini Penopangnya
- Janu Putra Sejahtera Kantongi Rp70 Miliar dari Penjualan Aset ke Grup De Heus
- JELI Klarifikasi Antrean Jual 68 Juta Lot, BEI Bilang Bukan Gangguan Sistem