back to top

Di Balik Runtuhnya Bursa Saham Eropa: Krisis Minyak dan Skandal Eksposur USD 30 Miliar Bank Raksasa

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (13/3/2026) waktu setempat. Para investor terus mencermati konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Ketegangan ini dikhawatirkan berdampak panjang terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 0,5% ke posisi 595,85. Mayoritas bursa utama di kawasan tersebut berada di zona negatif. Indeks CAC 40 Perancis merosot 0,91% ke level 7.911,53. FTSE MIB Italia melemah 0,31% ke posisi 44.316,92.

Indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,43% ke level 10.261,15. DAX Jerman turun 0,60% ke posisi 23.447,29. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol berkurang 0,47% ke level 17.059,30.

Sektor industri dan pertambangan menjadi penekan utama indeks. Namun, sektor minyak dan gas, asuransi, serta utilitas justru memimpin penguatan. Di pasar valuta asing, poundsterling jatuh 0,8% terhadap dolar AS menjadi USD 1,323. Hal ini dipicu data awal ekonomi Inggris yang mengalami stagnasi pada Januari.

Harga energi tetap menjadi fokus utama pasar global. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menerbitkan pembebasan sementara selama 30 hari untuk minyak Rusia yang sedang dalam perjalanan laut. Langkah ini diambil guna meredakan kekhawatiran atas pengetatan pasokan dan lonjakan harga.

Harga minyak Brent bertahan di atas level USD 100 per barel. Padahal Badan Energi Internasional baru saja mengumumkan pelepasan cadangan darurat sebanyak 400 juta barel. Minyak mentah Brent naik 1% ke USD 101,54. Sementara WTI naik 1,1% ke posisi USD 96,82.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal di wilayah tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan pernyataan terkait rencana pengawalan kapal melalui Selat Hormuz.

“Sesegera mungkin secara militer,” ujar Bessent mengenai upaya pengawalan kapal di titik krusial tersebut.

Menteri Energi AS Chris Wright menyebut pengawalan tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, ia menekankan perlunya kesiapan militer yang matang.

“Relatif segera tetapi tidak bisa terjadi sekarang,” tambah Wright.

Pemimpin Tertinggi stoxxbaru Iran Mojtaba Khamenei menegaskan negaranya akan terus memblokir saluran pengiriman tersebut. Langkah Iran ini telah memicu lonjakan harga minyak yang sangat cepat. Biaya yang meningkat terus menekan bursa saham Asia dan Amerika Serikat.

Di sisi korporasi, saham Deutsche Bank turun 0,9%. Bank asal Jerman ini mengungkapkan adanya eksposur sebesar USD 30 miliar ke pasar kredit swasta. Kondisi ini membuat saham perbankan di Eropa ikut tertekan dengan penurunan indeks sektor bank sebesar 1,12%.

Kabar baik datang dari BE Semiconductor yang sahamnya melonjak 6,6%. Kenaikan ini didorong oleh rumor adanya minat pengambilalihan perusahaan. Hingga saat ini, pihak manajemen belum memberikan komentar resmi terkait kabar tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Dihantui Bayang-bayang Stagflasi Akibat Krisis Iran, Wall Street Merah Tiga Pekan Beruntun

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Peluang Resesi 2026 Melonjak ke 32%, Bursa Saham Asia Kompak Berguguran

STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup melemah...

Wall Street Terperosok ke Level Terendah 2026, Indeks Dow Jones Longsor 739 Poin,

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru