STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Selasa (3/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (4/3/2026) WIB. Investor lebih memilih dolar Amerika Serikat (AS) sebagai tempat berlindung. Pergeseran minat ini terjadi di tengah kecemasan imbas perang udara AS-Israel terhadap Iran.
Mengutip CNBC International, harga emas spot anjlok 3,3% ke level USD 5.150,89 per ons troi. Logam mulia ini bahkan sempat merosot lebih dari 4% dan menyentuh titik terendah sejak 20 Februari. Di pasar berjangka AS, kontrak emas pengiriman April juga turun 2,8% menjadi USD 5.161,50.
Para pedagang mulai memangkas taruhan pemotongan suku bunga. Mereka sangat mengkhawatirkan lonjakan inflasi global. Dolar AS pun melesat naik 0,9% ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan terakhir. Imbal hasil obligasi AS atau Treasury juga ikut melonjak tajam.
Ross Norman, seorang analis independen, menyoroti kuatnya laju mata uang AS saat ini.
“Dolar benar-benar mengamuk, begitu pula dengan obligasi AS, dan ini memberikan hambatan yang kuat terhadap emas serta khususnya perak,” ucap Ross Norman.
Kenaikan nilai tukar dolar AS berimbas negatif pada pasar emas. Emas dalam denominasi dolar menjadi jauh lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Lonjakan imbal hasil juga meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam tanpa imbal hasil ini.
Aksi jual juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot jatuh 9,1% menjadi USD 81,31 per ons troi. Padahal, perak sempat mendaki ke level tertinggi dalam empat minggu pada perdagangan Senin.
Kepanikan pasar makin bertambah akibat tertutupnya Selat Hormuz. Seorang pejabat Garda Revolusi Iran mengancam akan menembaki semua kapal di jalur laut tersebut. Akibatnya, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak drastis.
Kenaikan tarif pengiriman ini memicu ketakutan akan inflasi tinggi. Emas sejatinya sering dianggap sebagai pelindung nilai terhadap inflasi jangka panjang. Namun, inflasi tinggi bisa mendongkrak imbal hasil riil dan memperkuat dolar.
Kondisi tersebut akan membuat biaya pinjaman tetap tinggi lebih lama. Selera pasar terhadap emas pun otomatis menurun. Indeks Nasdaq ikut memimpin kerugian di pasar berjangka saham AS dengan kejatuhan 2,3%.
Berdasarkan alat FedWatch dari CME Group, pedagang memprediksi Bank Sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga. Keputusan ini diperkirakan muncul pada akhir pertemuan dua hari mereka pada 18 Maret mendatang. Peluang penahanan bunga pada bulan Juni juga naik menjadi lebih dari 60%. Sebelumnya peluang ini berada di bawah 45%.
Meski begitu, banyak analis masih optimistis terhadap prospek emas. BMI, sebuah unit dari Fitch Solutions, memprediksi emas bisa mencapai rekor di atas USD 5.600 per ons troi minggu ini. Kenaikan ini bisa terjadi jika tidak ada tanda-tanda penurunan ketegangan di Timur Tengah.
Rania Gule, analis dari XS.com, menjelaskan peran penting emas di tengah ketidakpastian saat ini.
“Dalam lingkungan di mana risiko geopolitik bersinggungan dengan tekanan inflasi dan kompleksitas kebijakan moneter, emas menjadi alat untuk merealokasi risiko di dalam portofolio investasi,” sebut Rania Gule.
Selain emas dan perak, nasib buruk juga menimpa logam lainnya. Harga platinum anjlok 11,7% ke level USD 2.034,20. Sementara itu, paladium ikut merosot 5,7% menjadi USD 1.665,22.
