back to top

Fitch Turunkan Prospek Utang RI Jadi Negatif, Pemerintah dan BI Kompak Pastikan Ekonomi Tetap Kuat

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) merespons tegas pengumuman terbaru dari Fitch Ratings. Lembaga pemeringkat internasional ini resmi merevisi prospek peringkat utang Indonesia. Prospek tersebut turun dari level stabil menjadi negatif pada Rabu (4/3/2026). Peringkat kredit jangka panjang atau Sovereign Credit Rating RI tetap dipertahankan pada posisi layak investasi (BBB).

Penurunan prospek ini dipicu oleh sejumlah sentimen. Ketidakpastian kebijakan di dalam negeri dinilai meningkat. Konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi dianggap terkikis. Hal ini terjadi seiring memusatnya skema pengambilan keputusan. Fitch juga menyoroti kekhawatiran atas kelonggaran disiplin fiskal.

Ada potensi pelebaran defisit anggaran menurut laporan tersebut. Ambisi pertumbuhan ekonomi pemerintah dipandang terlalu tinggi. Program pengeluaran sosial dinilai sangat masif. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil di tengah penerimaan negara berstatus masih lemah.

Pemerintah langsung mencatat keseluruhan hasil penilaian ini. Momentum ini digunakan untuk memperkuat perumusan kebijakan ekonomi. Agenda reformasi struktural akan diakselerasi secara maksimal.

“Pemerintah menghargai penilaian Fitch Ratings yang kembali menempatkan Indonesia dalam kategori investment grade,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Fitch secara eksplisit tetap mengakui sejumlah kekuatan fundamental perekonomian domestik. Laju pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sekitar 5% per tahun. Angka ini merupakan posisi tertinggi di antara negara setara pada kategori BBB. Pencapaian tersebut bahkan menyentuh dua kali lipat dari rata-rata median kelompok terkait.

Rasio utang pemerintah terhadap PDB tercatat sangat aman. Posisinya berada jauh di bawah nilai tengah negara setara. Fakta ini mencerminkan komitmen disiplin fiskal secara konsisten.

Fitch ikut memberikan penyesuaian kualitatif positif sebesar +1 notch kepada Indonesia. Langkah ini merupakan bentuk pengakuan atas rekam jejak stabilitas makroekonomi. Prospek pertumbuhan jangka menengah juga tergolong sangat kuat. Indonesia tercatat tidak pernah melakukan restrukturisasi utang publik selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Pemerintah terus mempercepat sejumlah agenda reformasi struktural penting. Sektor penerimaan negara diperkuat melalui sistem Coretax Direktorat Jenderal Pajak. Inovasi ini diusung guna meningkatkan administrasi dan kepatuhan wajib pajak. Agenda hilirisasi industri dan optimalisasi aset negara ikut digenjot lewat kehadiran badan Danantara.

Danantara bertugas mendorong investasi di berbagai sektor strategis. Sektor tersebut mencakup mineral, energi, pangan, hingga pertanian. Struktur ekspor Indonesia akan diarahkan pada produk bernilai tambah tinggi. Ketergantungan terhadap komoditas mentah rentan fluktuasi harga global akan dikurangi secara bertahap.

Komitmen penuh terhadap kerangka fiskal terus dijaga ketat. Batas defisit anggaran sebesar 3% PDB tetap menjadi jangkar utama kebijakan. Program Makan Bergizi Gratis dan percepatan infrastruktur dirancang khusus dalam koridor fiskal terukur.

Bank Indonesia terus menjalankan mandat secara sangat independen. Stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi menjadi prioritas utama. Reformasi iklim investasi berjalan melalui implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Beleid ini memberi kepastian berinvestasi bagi para pelaku usaha. Upaya pemberantasan korupsi dan peningkatan tata kelola pemerintahan terus diperkuat.

Pemerintah merasa optimis menatap kondisi ekonomi ke depan. Konsistensi kebijakan dan akselerasi reformasi diyakini mampu membawa Indonesia kembali ke prospek positif menuju peringkat lebih tinggi. Indonesia dinilai telah berhasil melewati berbagai tantangan global berbekal fundamental solid.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo turut merespons keputusan Fitch. Afirmasi peringkat pada level BBB dinilai mencerminkan tingginya kepercayaan global terhadap RI.

“Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia,” tegas Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Pertumbuhan ekonomi domestik tetap solid di tengah tingginya ketidakpastian global. Inflasi inti terpantau tetap rendah dan terkendali. Nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui berbagai kebijakan stabilisasi pasar. Intervensi dilakukan di pasar NDF luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF dalam negeri.

Stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dengan sangat baik. Likuiditas perbankan dinilai memadai. Permodalan perbankan berada pada level tinggi dengan profil risiko kredit rendah. Digitalisasi sistem pembayaran ikut mendukung tren pertumbuhan ekonomi secara penuh ditopang struktur industri sehat.

Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan tetap solid dalam jangka menengah. Tren pertumbuhan menunjukkan arah peningkatan nyata. Pertumbuhan ekonomi tahun 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%. Angka ini diprediksi akan terus membaik pada 2027 dibarengi tingkat inflasi sesuai sasaran target.

Ketahanan eksternal perekonomian tetap tangguh menghadapi gejolak global. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terjaga sangat sehat. Kinerja neraca perdagangan menyumbang catatan solid bagi negara.

Posisi cadangan devisa mencapai USD 154,6 miliar pada akhir Januari 2026. Jumlah ini setara pembiayaan 6,3 bulan impor. Angka ini juga setara 6,1 bulan impor ditambah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pencapaian tersebut melampaui standar kecukupan internasional di kisaran 3 bulan impor. Kondisi NPI tahun 2026 diprediksi tetap baik dengan rentang defisit transaksi berjalan sangat rendah pada 0,9% hingga 0,1% PDB.

Bank Indonesia berkomitmen memperkuat bauran kebijakan secara berkelanjutan. Sinergi erat dijalin bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Program Asta Cita usungan Pemerintah juga mendapat dukungan penuh. Langkah strategis ini bertujuan menjaga stabilitas makroekonomi serta memelihara kepercayaan pasar global.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Fitch Turunkan Prospek Utang Indonesia Jadi Negatif, Ini Pemicunya!

STOCKWATCH.ID (HONG KONG) – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings merevisi...

RDK OJK, Sektor Jasa Keuangan Nasional Terjaga hingga Februari 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas...

850 Ribu Ojol Bakal Terima BHR, Pemerintah Juga Tebar Diskon Transportasi dan Pangan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Ratusan ribu pengemudi ojek online (ojol)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru