STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pemerintah memutuskan untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge (FS) menjadi 38%.
Kebijakan ini berlaku bagi pesawat jet maupun propeler. Sebelumnya, tarif FS untuk pesawat jet sebesar 10% dan pesawat propeler 25%. Langkah mitigasi ini diambil guna menjaga keberlanjutan industri penerbangan di tengah lonjakan harga energi global.
Kenaikan harga avtur dipicu oleh dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia. Sebagai gambaran, harga avtur di Thailand mencapai Rp29.518 per liter. Di Filipina, harga bahan bakar tersebut berada di level Rp25.326 per liter.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan di Indonesia, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta naik menjadi Rp23.551 per liter per 1 April 2026. Angka ini meningkat tajam dari harga sebelumnya yang hanya Rp13.656 per liter. Kenaikan tersebut sangat memberatkan maskapai karena avtur menyumbang 40% dari total biaya operasional.
Meski biaya tambahan naik, pemerintah menjamin harga tiket tetap terkontrol. Airlangga menegaskan kenaikan harga tiket domestik dibatasi pada level tertentu agar tidak membebani masyarakat.
“Pemerintah juga menjaga kenaikan tiket domestik tetap terjangkau oleh masyarakat dengan menjaga kenaikan harga tiket di kisaran 9% hingga 13%,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Pemerintah juga memberikan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 11% untuk tiket angkutan udara kelas ekonomi. Program ini membutuhkan anggaran sekitar Rp1,3 triliun per bulan. Kebijakan ini akan dievaluasi secara berkala setiap dua bulan.
Dukungan lain bagi maskapai adalah penurunan tarif Bea Masuk (BM) suku cadang pesawat menjadi 0%. Tahun lalu, nilai bea masuk komponen pesawat mencapai Rp500 miliar. Pembebasan tarif ini diharapkan mampu menekan biaya perawatan pesawat.
Kebijakan BM 0% ini diprediksi memperkuat daya saing industri perawatan pesawat atau MRO. Potensi aktivitas ekonominya diperkirakan menyentuh angka USD 700 juta per tahun. Selain itu, langkah ini berpotensi mendorong Produk Domestik Bruto (PDB) hingga USD 1,49 miliar.
Sektor penerbangan juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Tambahan lapangan kerja diproyeksikan mencapai 1.000 tenaga kerja langsung dan 2.700 tenaga kerja tidak langsung.
Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Turut mendampingi Deputi Bidang Perekonomian Sekretariat Kabinet Satya Bhakti Parikesit beserta jajaran pejabat eselon I lainnya.
