STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) resmi memperkuat pijakannya di industri kreatif tanah air. Melalui unit bisnis Folago Pictures, emiten ini menandatangani nota kesepahaman (MOU) untuk melakukan co-investment dalam belasan proyek film layar lebar.
Perseroan menggandeng sejumlah studio raksasa Indonesia. Nama-nama besar seperti Visinema Pictures, MVP Pictures, VMS Pictures, Tiger Wong Entertainment, hingga KUY STUDIO masuk dalam jajaran mitra strategis.
Direktur Utama IRSX, Subioto Jingga, menjelaskan perusahaan menyiapkan dana sekitar 500 miliar untuk sektor film pada tahun 2026 dan 2027. Dana tersebut berasal dari total hasil rights issue perseroan yang mencapai Rp3,7 triliun.
“Rp500 miliar itu bisa berupa produksi micro drama, co-investment film di para PH (Production House), dan juga produksi series untuk platform OTT,” ujar Subioto di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Strategi yang dijalankan menggunakan pendekatan asset-light. IRSX akan masuk sebagai investor dengan porsi kepemilikan saham berkisar 20% hingga 70% pada setiap judul film. Nilai investasinya beragam, mulai dari Rp2 miliar hingga Rp15 miliar per judul, tergantung skala produksi.
Terdapat total 19 film yang masuk dalam rencana produksi periode 2026-2027. Rinciannya terdiri dari 15 film hasil kolaborasi (co-investment) dan 4 film produksi mandiri (in-house). Genre horor, komedi, dan drama masih menjadi prioritas karena tingginya permintaan pasar.
Subioto optimistis langkah ini akan mendongkrak kinerja keuangan divisi film secara signifikan. Target pertumbuhan pendapatan dibidik mencapai 200% atau dua kali lipat dari nilai investasi.
“Dari jumlah dana yang kita invest, kita berharap membidik kali dua pendapatan. Kalau bisa di atas itu, kita anggap ini bonus jackpot,” tutur Subioto.
Selain film layar lebar, IRSX juga akan merilis aplikasi bernama “Tidak Tidur”. Platform ini nantinya menayangkan ribuan judul micro drama hasil akuisisi dari luar negeri. Perusahaan ingin menciptakan ekosistem konten yang lengkap, mulai dari drama pendek hingga film layar lebar.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari alokasi dana rights issue yang lebih luas. Selain film, IRSX mengalokasikan Rp700 miliar untuk hiburan live digital seperti konser artis internasional. Sisanya digunakan untuk akuisisi influencer, agensi, hingga pengembangan perangkat lunak berbasis AI.
Subioto menegaskan pemilihan mitra kerja dilakukan secara selektif. Perusahaan hanya bekerja sama dengan pemain terbaik di industri perfilman untuk memastikan kualitas dan hasil maksimal.
“Kita selalu pilih best of the best in the industry. Kita merasa untuk menjadi the best, ya kita harus bersamaan dengan yang the best di industri,” jelasnya.
