STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Gibran Rakabuming Raka, bakal calon wakil presiden (cawapres) Koalisi Indonesia Maju (KIM) membocorkan sederet program unggulannya ketika berpidato untuk pertama kalinya sebagai cawapres di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu (25/10/2023).
Degan penuh percaya diri, putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu, menyampaikan program-pogram andalannya di hadapan bakal calon presiden (capres) Prabowo Subianto, ketua umum partai politik anggota KIM dan pendukung, serta simpatisan Koalisi Indonesia Maju. Itu dilakukan sesaat sebelum Prabowo – Gibran mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Rabu (25/10/2023).
Salah satu program Wali Kota Solo tersebut yang menyita perhatian publik adalah Kredit Start-Up Milenial. Adapun kredit ini menyasar kaum milenial yang menjalankan bisnis berbasis inovasi dan teknologi.
“Sekarang sudah ada yang namanya KUR, sudah ada yang namanya kredit Mekar, sudah ada Wakaf Mikro. Ada Kredit Ultra Mikro. Nanti akan kami tambahkan lagi, Kredit Start Up Milenial. Ini untuk bisnis-bisnis para milenial yang brebasisi inovasi dan teknologi,” ujar Gibran.
Lantas, bagaimana respon perbankan terhadap Kredit Start Up Milenial ini?
Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengemukakan, pada prinsipnya, pembiayaan ke perusahaan sektor digital difokuskan melalui perusahaan anak BCA yang bergerak di bidang modal ventura, yakni PT Central Capital Ventura (CCV).
“Selain untuk mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia, BCA melihat CCV menjadi sarana yang baik bagi Perseroan untuk mempelajari perkembangan dan dinamika startup dan fintech di Indonesia,” ujarnya kepada stockwatch.id, ditullis Kamis (26/10/2023.
Hera mengatakan, kegiatan usaha CCV antara lain melakukan investasi penyertaan kepada perusahaan fintech dan perusahaan fintech-enabler, serta mengeksplorasi potensi embedded fintech dari perusahaan startup non-fintech. Embedded fintech adalah penawaran produk finansial oleh startup seperti edu-tech, health tech, digitilisasi UMKM, dan sebagainya.
Hingga September 2023, CCV telah melakukan investasi kepada 27 perusahaan dengan total nilai investasi mencapai Rp350 miliar.
“Seperti diketahui bersama, situasi perekonomian global terkini yang dipicu oleh konflik geopolitik, tren kenaikan suku bunga, serta resesi ekonomi pada sejumlah negara turut mempengaruhi gairah investasi ke startup,” terang Hera.
Jika sebelumnya valuasi kerap menjadi parameter utama bagi para investor untuk menanamkan modal di startup, lanjut dia, kini faktor keberlanjutan, dampak, serta profitabilitas menjadi pertimbangan utama investor.
Pergeseran paramater tersebut akan membawa pengaruh yang positif untuk ekosistem dan investor. Alhasil, iklim ekosistem startup akan didorong menjadi lebih sehat dan berdampak pada dunia usaha.
Ke depan, demikian Hera, BCA melalui anak perusahaan CCV akan senantiasa mengamati dinamika terjadi di pasa. Perseroan juga akan menjajaki peluang investasi pada sektor-sektor digital potensial. Itu terutama yang mendukung bisnis inti BCA.
“Di tengah era percepatan digitalisasi, kami akan senantiasa terbuka dengan kolaborasi dengan mitra fintech atau startup strategis guna memperluas ekosistem pelayanan kepada segenap nasabah tercinta,” tandasnya.
