STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melonjak pada perdagangan Rabu (25/3/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (26/3/2026) WIB. Kenaikan terjadi seiring turunnya harga minyak yang meredakan tekanan inflasi serta munculnya harapan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik hampir 2% menjadi USD 4.558,81 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April menguat lebih dari 3% ke level USD 4.552,30 per ons troi.
Penguatan harga emas terjadi di tengah upaya deeskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Sentimen ini mendorong minat investor terhadap aset safe haven.
Penurunan harga minyak mentah turut menjadi faktor pendorong. Harga minyak Brent merosot sekitar 5% ke posisi USD 99,13 per barel. Adapun minyak West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4% menjadi USD 88,42 per barel.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal positif terkait perkembangan negosiasi. Ia menyebut AS dan Iran tengah melakukan pembicaraan untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
“Mereka berbicara kepada kami, dan mereka berbicara masuk akal,” ujar Donald Trump.
Trump juga membatalkan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Keputusan ini diambil seiring berlangsungnya proses negosiasi. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah 0,17% pada awal perdagangan di Asia, yang turut mendukung penguatan harga emas.
Namun, pernyataan berbeda datang dari pihak Iran. Juru Bicara Militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan tidak ada pembicaraan dengan AS.
“Tidak ada orang seperti kami yang akan membuat kesepakatan dengan Anda. Tidak sekarang. Tidak pernah,” tegas Ebrahim Zolfaqari.
Di tengah dinamika tersebut, Iran memberikan izin bagi kapal non-permusuhan untuk melintas di Selat Hormuz. Kebijakan ini berlaku dengan syarat kapal tidak terlibat dalam operasi agresif terhadap Iran dan tetap berkoordinasi dengan otoritas setempat.
Meski mengalami penguatan, harga emas saat ini masih berada sekitar 17% di bawah level tertinggi pada akhir Januari lalu. Goldman Sachs menilai koreksi sebelumnya sejalan dengan pola historis akibat kenaikan ekspektasi suku bunga dan volatilitas pasar.
Co-head Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menyampaikan pandangannya terkait pergerakan harga emas.
“Kami tidak berpikir penurunan tersebut … mengejutkan mengingat kerangka penetapan harga kami yang ada,” ujar Daan Struyven.
Menurutnya, kenaikan ekspektasi suku bunga menekan permintaan investor melalui instrumen ETF emas yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Meski demikian, Goldman Sachs tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang emas. Bank investasi tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD 5.400 per ons troi pada akhir tahun. Proyeksi ini didukung oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral yang melakukan diversifikasi aset di tengah risiko geopolitik dan finansial global.
