Sabtu, November 29, 2025
27.3 C
Jakarta

Harga Emas Diprediksi Tembus US$3.500, Mirae Asset Rekomendasikan Saham Emiten Tambang!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut saham emiten tambang emas berpotensi jadi pilihan menarik untuk trading jangka pendek.

Hal ini disampaikan langsung oleh Farras Farhan, Research Analyst Mirae Asset, dalam acara Media Day: June 2025 by Mirae Asset yang digelar pada 12 Juni 2025.

Menurut Farras, harga logam mulia masih punya peluang untuk terus menguat dalam 1–3 bulan ke depan.

“Kami masih optimis harga emas masih bisa menguat hingga US$3.500 per troy ounce dalam jangka pendek, yaitu pada periode 1–3 bulan ke depan, karena ketidakpastian globalnya masih tinggi. Untuk itu, saham-saham emiten terkait emas bisa jadi pilihan trading jangka pendek,” jelasnya, di Jakarta, Kamis (12/6/2025).

Harga komoditas emas global saat ini berada di kisaran US$3.340 per troy ounce. Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2024 yang sebesar US$2.620 per troy ounce, nilainya telah melonjak lebih dari 27%.

Farras juga menyebut rerata harga emas sepanjang tahun ini diprediksi bisa mencapai US$3.100 per troy ounce.

Sementara itu, sejak awal tahun, rerata harga emas masih berada di bawah US$3.000 per troy ounce.

Ia menilai ruang kenaikan masih terbuka, apalagi menjelang beberapa momentum penting seperti Diwali di India yang akan digelar Oktober mendatang.

“Bulan depan patut diingat juga ada momentum 90 hari masa suspensi tarif dagang Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan perdagangan dan politiknya. Selain itu, permintaan emas juga diprediksi akan naik menjelang perayaan Diwali di India pada Oktober yang biasanya turut mendongkrak harga emas global,” lanjutnya.

Meski begitu, Farras juga mengingatkan bahwa harga emas diprediksi akan melemah menjelang akhir tahun.

Pelemahan tersebut dipengaruhi tambahan pasokan emas dari Australia dan turunnya permintaan global.

Di sisi lain, Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, mengungkapkan bahwa ketidakpastian global terus menjadi faktor utama penggerak harga emas sejak awal tahun.

Ia menjelaskan emas akan tetap menjadi instrumen safe haven saat situasi geopolitik dan makroekonomi tidak menentu.

“Kalau nanti keputusan tarif impor barang China ke AS jauh dari rencana awal 30% dan sebaliknya tarif impor AS ke China 10%, maka baru akan ada perubahan di prediksi ekonomi dan pasar keuangan. Pelaku pasar global sudah mengantisipasi level 30%-10% tersebut,” kata Rully.

Ia juga mengungkapkan bahwa ketegangan perang dagang antara AS dan China yang sempat mereda dalam dua bulan terakhir berdampak pada pasar Indonesia.

Nilai tukar dolar AS (DXY) yang melemah serta turunnya harga komoditas menyebabkan aksi jual bersih investor asing.

Aliran dana asing keluar (foreign capital outflow) pada pekan pertama Juni tercatat mencapai Rp 4,7 triliun. Dana tersebut mayoritas berasal dari saham-saham bank besar.

Sementara itu, Herwin Hidayat, Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), menilai tren penguatan harga emas masih akan menguntungkan perusahaan tambang emas seperti BRMS.

“Untuk BRMS, setiap kenaikan harga emas dapat membuat kinerja keuangan lebih positif, bersama dengan faktor lain yaitu peningkatan kapasitas produksi,” jelas Herwin.

Tahun ini, BRMS menargetkan produksi emas naik menjadi 70.000–75.000 troy ounce. Angka tersebut meningkat dari produksi tahun 2024 yang sebesar 64.983 troy ounce.

- Advertisement -

Artikel Terkait

13 Perusahaan Antre IPO, 7 Berpotensi Melantai Tutup Tahun Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Sejumlah perusahaan diketahui tengah mengantre untuk...

Simak! Ini 5 Saham Top Losers dalam Sepekan, Ada MSIN, PURI dan KOKA

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan...

Sinar Mas Multiartha (SMMA) Tambah Setoran Modal Anak Usaha Rp880 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) telah...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru