STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (15/12/2025) waktu setempat atau Selasa pagi (16/12/2025) WIB. Investor kini tengah menyeimbangkan gangguan pasokan akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Namun, kekhawatiran akan kelebihan pasokan global serta potensi kesepakatan damai Rusia-Ukraina lebih mendominasi sentimen pasar.
Mengutip CNBC International, minyak mentah Brent turun 56 sen atau 0,92%. Minyak acuan global ini ditutup pada level US$ 60,56 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 62 sen atau 1,08% dan menetap di angka US$ 56,82 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kedua kontrak acuan tersebut anjlok lebih dari 4% sepanjang minggu lalu. Penurunan ini terbebani oleh ekspektasi surplus minyak global pada tahun 2026.
Ekspor minyak Venezuela turun tajam sejak AS menyita sebuah kapal tanker pekan lalu. AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan pelayaran dan kapal yang berbisnis dengan produsen minyak Amerika Latin tersebut. Hal ini terungkap dari data pengiriman, dokumen, dan sumber maritim.
Pasar memantau ketat perkembangan ini serta dampaknya terhadap pasokan minyak. Reuters melaporkan rencana AS untuk mencegat lebih banyak kapal pembawa minyak dari Venezuela. Langkah ini dilakukan menyusul penyitaan tanker sebelumnya guna meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
John Evans, seorang analis di PVM, memberikan pandangannya terkait situasi ini.
“Penurunan harga minyak secara perlahan dan pencapaian posisi terendah bulanan di seluruh bursa berjangka utama minggu lalu mungkin akan menyebabkan harga yang lebih negatif jika bukan karena peningkatan tindakan oleh Amerika Serikat terkait Venezuela,” kata John Evans.
Meski demikian, pasokan minyak yang melimpah sudah dalam perjalanan ke China. China merupakan pembeli minyak terbesar Venezuela.
Selain itu, ketersediaan pasokan global yang banyak dan permintaan yang lebih lemah turut meredam dampak gangguan pasokan akibat penyitaan tanker tersebut.
Kemajuan dalam pembicaraan damai AS juga mendorong pasar bergerak lebih rendah pada hari Senin. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan untuk membatalkan aspirasi negaranya bergabung dengan aliansi militer NATO.
Tawaran ini muncul saat ia mengadakan pembicaraan lima jam dengan utusan AS di Berlin pada hari Minggu. Putaran kedua pembicaraan berakhir pada hari Senin.
Rustem Umerov, sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, memberikan pernyataan usai pertemuan tersebut.
“Selama dua hari terakhir, negosiasi Ukraina-AS berlangsung konstruktif dan produktif, dengan kemajuan nyata yang dicapai,” tulis Rustem Umerov di platform X.
Kesepakatan damai yang mungkin terjadi pada akhirnya dapat meningkatkan pasokan minyak Rusia. Saat ini, minyak Rusia masih terkena sanksi oleh negara-negara Barat.
Meningkatnya ekspektasi surplus juga menekan harga. Data ekonomi yang lebih lemah dari China turut memperburuk sentimen.
Output pabrik di China melambat ke level terendah dalam 15 bulan pada November. Sementara itu, penjualan ritel tumbuh pada laju terlemah sejak Desember 2022.
J.P. Morgan Commodities Research memberikan catatan pada hari Sabtu. Mereka memperkirakan surplus minyak pada tahun 2025 akan melebar lebih jauh hingga tahun 2026 dan 2027.
Pasokan minyak global diproyeksikan melampaui permintaan. Pasokan diperkirakan tumbuh tiga kali lipat dari tingkat pertumbuhan permintaan hingga tahun 2026.
Giovanni Staunovo, seorang analis di UBS, turut mengomentari kondisi pasar saat ini.
“Penghindaran risiko, dengan pasar saham AS diperdagangkan lebih rendah, dan data ekonomi China yang lebih lemah dari perkiraan tidak membantu minyak mentah,” kata Giovanni Staunovo.
