Rabu, Januari 21, 2026
27.9 C
Jakarta

Harga Minyak Dunia Turun Lebih dari 1,5% Usai Israel dan Hamas Sepakat Gencatan Senjata

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melemah lebih dari 1,5% pada perdagangan Kamis (9/10/2025) waktu setempat atau Jumat pagi (10/10/2025) WIB. Penurunan ini terjadi setelah Israel dan Hamas menandatangani perjanjian gencatan senjata di Gaza. Kesepakatan tersebut memicu aksi ambil untung di pasar energi, di tengah harapan situasi geopolitik Timur Tengah mulai mereda.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent turun US$1,03 atau 1,55% menjadi US$65,22 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh US$1,04 atau 1,66% dan ditutup di level US$61,51 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Perjanjian gencatan senjata itu mencakup penghentian pertempuran, penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan seluruh sandera Israel yang ditahan Hamas sebagai imbalan atas pembebasan ratusan tahanan Palestina.

“Kontrak berjangka minyak sedang memasuki fase koreksi seiring konflik Israel dan Hamas tampaknya mulai berakhir,” ujar Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Divisi Perdagangan di BOK Financial.

Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti menilai, kesepakatan damai ini menjadi titik penting dalam sejarah modern Timur Tengah dan bisa berdampak luas bagi pasar minyak. “Perjanjian perdamaian ini adalah terobosan besar. Dampaknya terhadap pasar minyak bisa sangat luas, mulai dari menurunnya serangan Houthi di Laut Merah hingga meningkatnya peluang kesepakatan nuklir dengan Iran,” jelas Galimberti.

Sebelumnya, harga minyak sempat menguat sekitar 1% pada Rabu setelah investor menilai mandeknya kemajuan perundingan damai Ukraina sebagai tanda sanksi terhadap Rusia, eksportir minyak terbesar kedua di dunia, masih akan berlangsung lama.

Namun kini pasar berbalik arah setelah prospek perdamaian di Gaza memberikan harapan stabilitas geopolitik. Di sisi lain, kebijakan OPEC+ yang baru diumumkan pada akhir pekan lalu juga turut mempengaruhi pergerakan harga. OPEC+ sepakat menaikkan produksi minyak pada November, meski lebih kecil dari ekspektasi pasar, sehingga sedikit meredakan kekhawatiran kelebihan pasokan.

Sementara itu, kondisi politik di Amerika Serikat turut memberi tekanan pada harga minyak. RUU Partai Republik untuk mendanai pemerintahan AS dan mengakhiri penutupan (shutdown) gagal memperoleh cukup suara di Senat. Penutupan yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa memperlambat ekonomi AS dan menekan permintaan minyak.

Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Federal Reserve Michael Barr menyampaikan pandangan agar bank sentral AS berhati-hati dalam melanjutkan pemangkasan suku bunga. Suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan permintaan energi karena mendorong aktivitas ekonomi.

Sementara itu, pemerintahan Presiden Donald Trump juga memperketat sanksi terhadap perdagangan minyak Iran. AS menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 100 individu, entitas, dan kapal, termasuk kilang independen asal Tiongkok yang terlibat dalam bisnis minyak dan petrokimia Iran.

Di Asia, hubungan dagang antara AS dan India juga menjadi sorotan. Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan telah berbicara dengan Presiden Donald Trump dan meninjau kemajuan negosiasi perdagangan kedua negara. Trump sebelumnya memberlakukan tarif tinggi terhadap ekspor India, termasuk atas pembelian minyak Rusia.

Dengan banyak faktor yang mempengaruhi arah pasar, harga minyak kini bergerak dalam tekanan moderat setelah reli singkat di awal pekan. Investor menanti perkembangan selanjutnya dari implementasi gencatan senjata dan dampaknya terhadap pasokan global.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tensi Geopolitik Memanas, Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru 4.700 USD

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Pasokan Kazakhstan Terganggu, Harga Minyak Dunia Melaju ke 64,92 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru