Selasa, Januari 20, 2026
28.6 C
Jakarta

Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Pasokan Berlimpah Tekan Optimisme Investor!

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak dunia mengalami penurunan tipis pada penutupan perdagangan Kamis (12/12/2024) waktu setempat atau Jumat pagi (13/12/2024) WIB. Hal ini disebabkan oleh proyeksi surplus pasokan yang dikeluarkan oleh Badan Energi Internasional (IEA). Penurunan harga minyak juga mengurangi optimisme pasar tentang pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2025 turun 27 sen menjadi US$70,02 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari  2025 terpangkas 11 sen mencapai US$73,41 per barel, di London ICE Futures Exchange.

IEA memproyeksikan bahwa pasokan minyak global akan tetap mencukupi pada 2024. Meskipun begitu, mereka sedikit menaikkan proyeksi permintaan minyak. Namun, OPEC justru menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun 2024. Penurunan ini merupakan yang terbesar dalam lima bulan terakhir.

Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS, mengatakan bahwa meskipun pasar diprediksi tetap kelebihan pasokan, kenaikan proyeksi permintaan dari IEA memberikan sedikit harapan. “Pasar masih menunggu kabar lebih lanjut tentang kebijakan fiskal global. Saya tidak mengharapkan pergerakan harga yang besar dalam waktu dekat,” ujarnya.

Di sisi lain, inflasi di Amerika Serikat menunjukkan angka sesuai dengan ekspektasi. Hal ini semakin memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. “Inflasi ini memberikan rasa nyaman. Meskipun tidak terlalu baik, namun cukup rendah bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada pertemuan mendatang,” kata Bjarne Schieldrop, analis komoditas di SEB.

Namun, ada kabar kurang menggembirakan. Persediaan bensin dan distilat di Amerika Serikat tercatat naik lebih dari yang diperkirakan minggu lalu, menurut data dari Energy Information Administration (EIA). Permintaan yang lemah, terutama dari China, serta pertumbuhan pasokan non-OPEC+, menjadi faktor penyebabnya.

Meski begitu, investor tetap optimis. Mereka memperkirakan permintaan minyak China akan meningkat setelah Beijing mengumumkan kebijakan moneter yang lebih longgar pada 2025. Kebijakan tersebut diperkirakan akan mendorong permintaan minyak.

China sendiri tercatat mengalami kenaikan impor minyak mentah pada November lalu. Impor minyak mentah China naik lebih dari 14% dibandingkan tahun sebelumnya, setelah tujuh bulan berturut-turut mengalami penurunan.

Saat ini, pasar minyak tengah menantikan sinyal lebih lanjut tentang kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan mendatang. Selain itu, harga minyak sempat terangkat pada Rabu lalu setelah Uni Eropa menyetujui paket sanksi ke-15 terhadap Rusia. Sanksi ini menargetkan armada kapal yang membantu Rusia menghindari pembatasan harga minyak US$60 per barel yang diberlakukan negara-negara G7 pada 2022.

Pemerintah Rusia menilai laporan yang mengindikasikan kemungkinan pengetatan sanksi AS terhadap minyak Rusia adalah langkah AS untuk meninggalkan warisan buruk dalam hubungan AS-Rusia. Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menambahkan bahwa AS terus mencari cara untuk mengurangi pendapatan minyak Rusia. Penurunan permintaan global, menurutnya, akan menciptakan peluang bagi sanksi lebih lanjut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tensi AS-Iran Mereda, Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke Level 64,19 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak menguat tipis...

Minyak Dunia Oversupply, ICP Desember 2025 Tertekan ke US$61,10 per Barel

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer 7 Hari

Berita Terbaru