back to top

Harga Minyak Melemah Tipis, Trump Kasih Tenggat 50 Hari ke Rusia

STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak mentah dunia ditutup sedikit melemah pada penutupan perdagangan Selasa (15/7/2025) waktu setempat atau Rabu pagi (16/7/2025) WIB. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi tenggat waktu 50 hari kepada Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina. Keputusan ini membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan mereda.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka Brent turun 50 sen atau 0,72% dan ditutup di US$68,71 per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 46 sen atau 0,69% ke level US$66,52 per barel, di New York Mercantile Exchange.

Analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan pasar awalnya khawatir Trump akan langsung menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Namun, tenggat 50 hari ini membuat kekhawatiran itu mereda.

“Fokusnya ada pada Donald Trump. Awalnya ada ketakutan dia akan langsung memberi sanksi, tapi sekarang dia memberi 50 hari,” kata Staunovo. “Kekhawatiran tentang potensi pengetatan pasokan dalam waktu dekat pun menghilang. Itu cerita utamanya.”

Sebelumnya, harga minyak sempat naik karena potensi sanksi AS terhadap Rusia. Namun, setelah Trump memberikan tenggat waktu yang lebih panjang, harga minyak kembali melemah karena muncul harapan sanksi tersebut bisa dihindari.

Meski begitu, jika Trump benar-benar menjatuhkan sanksi seperti yang direncanakan, pasar bisa berubah drastis.

“Jika sanksi itu diterapkan, maka akan sangat mengubah prospek pasar minyak,” tulis analis ING dalam sebuah catatan pada Selasa.

Dalam catatan itu, ING menjelaskan bahwa negara-negara seperti China, India, dan Turki yang menjadi pembeli utama minyak Rusia, perlu mempertimbangkan ulang apakah masih akan membeli minyak diskon dari Rusia dengan risiko kehilangan akses ekspor ke AS.

Trump sebelumnya juga mengumumkan akan mengirim senjata baru ke Ukraina. Ia mengatakan akan mengenakan tarif 30% untuk sebagian besar barang impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus, dan memberi sinyal keras kepada negara lain terkait kebijakan dagang AS.

Langkah tarif ini dikhawatirkan bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan bahan bakar, yang pada akhirnya bisa menyeret harga minyak turun lebih jauh.

Dari sisi data ekonomi, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua menunjukkan perlambatan. Data yang dirilis Selasa memperlihatkan lemahnya ekspor, penurunan harga, dan rendahnya kepercayaan konsumen.

Analis IG, Tony Sycamore, menyebut pertumbuhan ekonomi China masih di atas ekspektasi karena dukungan fiskal yang kuat dan percepatan produksi serta ekspor untuk menghindari tarif AS.

“Data ekonomi hari ini cukup mengkhawatirkan. Data China yang lemah hari ini berimbas langsung ke komoditas seperti bijih besi dan minyak mentah,” ujarnya.

Sementara itu, menurut laporan media Rusia, Sekretaris Jenderal OPEC menyatakan permintaan minyak akan tetap “sangat kuat” sepanjang kuartal ketiga tahun ini. Hal ini dinilai akan menjaga keseimbangan pasar dalam jangka pendek, meskipun tekanan dari sisi geopolitik dan ekonomi global masih cukup besar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Menanti Hasil Perundingan Nuklir AS-Iran, Harga Emas Dunia Bergerak Stabil

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia bergerak stabil pada...

Perundingan Nuklir AS-Iran Diperpanjang, Harga Minyak Dunia Turun Tipis

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia turun tipis sekitar...

Harga Emas Dunia Meroket Lagi, Investor Cari Aman di Tengah Tarif Baru AS dan Konflik Iran

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali menguat pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru