STOCKWATCH.ID (NEWYORK) – Harga minyak dunia mengalami penurunan tipis pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2024) waktu setempat atau Jumat pagi (29/5/2024) WIB, setelah laporan mengejutkan tentang lonjakan stok bensin AS. Stok bensin di AS naik 3,3 juta barel pada minggu yang berakhir 22 November. Kenaikan ini menambah kekhawatiran tentang permintaan minyak di negara konsumen terbesar dunia tersebut.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2025, turun tipis 1 sen menjadi US$68,71 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Adapun harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari 2025, berkurang 0,1% atau 4 sen mencapai US$72,79 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Seiring liburan di AS, perdagangan diperkirakan akan lebih sepi. Para pelaku pasar pun lebih berhati-hati dalam membuat keputusan.
Laporan dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan lonjakan stok bensin yang tidak terduga. Sebelumnya, pasar memperkirakan persediaan bahan bakar akan sedikit berkurang menjelang musim liburan besar.
Permintaan bahan bakar yang melambat di AS dan China memberikan tekanan pada harga minyak tahun ini. Namun, pembatasan pasokan oleh OPEC+ berhasil menahan penurunan harga yang lebih tajam. Negara-negara penghasil minyak utama, termasuk Rusia, terlibat dalam pembatasan ini.
OPEC+ kini sedang mendiskusikan penundaan lebih lanjut terhadap rencana peningkatan produksi minyak yang dijadwalkan pada Januari 2025. Kelompok ini akan mengadakan pertemuan pada hari Minggu untuk memutuskan kebijakan produksi untuk tahun depan.
Di sisi lain, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon memberikan sedikit angin segar bagi pasar minyak. Gencatan senjata ini meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Namun, ketidakpastian politik dan geopolitik tetap menjadi faktor yang mengkhawatirkan. Para analis memperingatkan bahwa pasar minyak masih bisa sangat terpengaruh oleh perkembangan situasi global yang terus berubah.
Menurut beberapa kepala riset komoditas di Goldman Sachs dan Morgan Stanley, harga minyak saat ini dianggap undervalued. Mereka juga memperingatkan potensi gangguan pasokan dari Iran akibat sanksi yang mungkin diberlakukan oleh Presiden terpilih AS, Donald Trump.
