STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak melemah pada perdagangan Senin (2/3/2026). Pergerakan IHSG diperkirakan berada di rentang 8.100 hingga 8.400.
Proyeksi tersebut disampaikan Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, dalam riset yang dirilis hari ini. Ia menilai arah pergerakan IHSG akan tertekan oleh sentimen negatif dari pasar global.
“Secara teknikal IHSG Senin 2 Maret 2026 diperkirakan akan bergerak melemah,” ujar Dimas.
Sejumlah sektor dinilai menarik untuk dicermati oleh pelaku pasar. Sektor tersebut mencakup IDXTECH, IDXFIN, IDXNCYC, IDXBASIC, IDXTRANS, dan IDXCYC.
Meski dibuka melemah di 8.211,305, IHSG pada perdagangan saham Jumat (27/2/2026) berakhir di level 8.235,485. Indeks ini tercatat naik sangat tipis 0,222 poin atau 0,00% dari penutupan Kamis (26/2/2026) di level 8.235,262. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak bervariasi.
Pergerakan indeks ditopang oleh beberapa saham utama. Saham BREN naik 4,78%, AMMN menguat 4,79%, BNBR melonjak 32,92%, MSIN naik 21,90%, dan FILM menguat 6,33%. Namun, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp694 miliar.
Kondisi pasar global memberikan sentimen negatif. Bursa Wall Street ditutup melemah. Hal ini dipicu kekhawatiran disrupsi saham-saham kecerdasan buatan (AI) dengan valuasi tinggi. Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah pasca serangan militer ke Iran oleh AS dan Israel turut menekan pasar.
Bursa Asia juga ditutup bervariasi. Pasar khawatir dengan valuasi mahal saham teknologi AI. Eskalasi konflik geopolitik AS-Iran juga meningkat pasca gagalnya perundingan program nuklir Iran.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia ditutup menguat di atas 2,5%. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD 67,02 per barel. Harga minyak Brent menyentuh USD 72,8 per barel. Konflik ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai konflik ini bisa berdampak pada ekonomi Indonesia. Eskalasi ini dapat memaksa pemerintah merevisi asumsi fiskal.
“Kemungkinan harga BBM akan naik sekitar 5% hingga 10% dalam minggu depan, jika eskalasinya berlanjut,” kata Yayan.
Dari sisi domestik, pemerintah berencana menyetop ekspor timah mentah. Langkah ini sejalan dengan komitmen memaksimalkan pemanfaatan timah di dalam negeri. Timah memiliki peran strategis untuk mendukung industri solar panel, elektronik, hingga semikonduktor.
Pemerintah ingin memastikan sumber daya alam strategis benar-benar menjadi pengungkit pertumbuhan industri domestik. Langkah hilirisasi ini diharapkan tidak berhenti pada komoditas ekspor mentah yang minim nilai tambah.
Untuk perdagangan sepanjang Senin hingga Jumat pekan ini, Bahana Sekuritas merekomendasikan saham – saham berikut:
- BULL – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp480
• Target Price 1: Rp520
• Target Price 2: Rp545
• Current Price: Rp500 - HUMI – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp220
• Target Price 1: Rp250
• Target Price 2: Rp260
• Current Price: Rp234 - LEAD – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp160
• Target Price 1: Rp173
• Target Price 2: Rp179
• Current Price: Rp166 - ENRG – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp1.650
• Target Price 1: Rp1.900
• Target Price 2: Rp2.000
• Current Price: Rp1.760 - APEX – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp196
• Target Price 1: Rp220
• Target Price 2: Rp232
• Current Price: Rp208 - ARCI – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp1.765
• Target Price 1: Rp2.000
• Target Price 2: Rp2.100
• Current Price: Rp1.880 - PSAB – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp525
• Target Price 1: Rp585
• Target Price 2: Rp625
• Current Price: Rp550 - BRMS – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp940
• Target Price 1: Rp1.000
• Target Price 2: Rp1.025
• Current Price: Rp970 - BUMI – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp244
• Target Price 1: Rp280
• Target Price 2: Rp292
• Current Price: Rp258 - DEWA – ACC BUY
• Stop Loss Under: Rp500
• Target Price 1: Rp550
• Target Price 2: Rp565
• Current Price: Rp525
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
